Artinya: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang lebih Engkau cintai, yaitu Umar bin Khattab atau Abu Jahl bin Hisham.” (HR. Tirmidzi)
Doa Rasulullah SAW terkabul dengan masuk Islamnya Umar, dan sejak saat itu kekuatan Islam bertambah besar, terutama dalam keberanian berdakwah secara terbuka.
Rasulullah SAW Menguatkan Hati Umar dalam Dakwah
Setelah masuk Islam, Umar langsung menunjukkan ketegasannya. Ia tidak sembunyi-sembunyi seperti sebagian sahabat lainnya. Ia bahkan berkata kepada Rasulullah SAW:
“Wahai Rasulullah, bukankah kita di atas kebenaran? Jika demikian, mengapa kita harus bersembunyi?”
Rasulullah SAW tersenyum dan menyetujui semangat Umar. Sejak saat itu, kaum Muslimin mulai berani menampakkan diri, melaksanakan shalat di depan umum, dan menyebarkan dakwah secara terbuka di Makkah. Keberanian Umar menjadi kekuatan moral bagi umat Islam yang saat itu masih minoritas dan tertindas.
Rasulullah SAW memahami kepribadian Umar yang kuat dan tegas. Namun, beliau juga mendidiknya agar ketegasan itu selalu diimbangi dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Rasulullah SAW tidak hanya membimbing Umar dalam strategi perjuangan, tetapi juga dalam menata hati dan kelembutan jiwa. Dalam banyak kesempatan, Nabi SAW menasihati Umar agar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan dan selalu mengedepankan hikmah.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah bersabda:
“إن الله جعل الحق على لسان عمر وقلبه.”
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW benar-benar memuliakan Umar dan menjadikannya salah satu sosok yang teguh dalam membela kebenaran. Namun di balik ketegasan itu, Umar juga tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih dan takut kepada Allah, berkat bimbingan langsung dari Nabi SAW.
Keteladanan Rasulullah SAW dalam Meneguhkan Iman Umar
Rasulullah SAW tidak hanya menguatkan Umar dengan kata-kata, tetapi juga dengan contoh nyata. Beliau menunjukkan kepada Umar bagaimana menghadapi kesulitan dengan sabar, bagaimana bersikap tegas tanpa kebencian, dan bagaimana mengutamakan ridha Allah di atas segalanya.
Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW menegur Umar ketika ia ingin berbuat kasar terhadap orang kafir yang menghina Islam. Nabi berkata kepadanya dengan lembut:
“يا عمر، إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله.”
Artinya: “Wahai Umar, sesungguhnya Allah itu lembut dan mencintai kelembutan dalam segala hal.”.(HR. Bukhari dan Muslim)
Umar pun menunduk, dan sejak itu ia belajar menyeimbangkan ketegasan dengan kelembutan. Bimbingan Rasulullah SAW menjadikan Umar bukan hanya seorang pejuang, tetapi juga pemimpin yang adil dan penuh kasih. Hingga masa kekhalifahannya, Umar selalu mengenang nasihat-nasihat Rasulullah SAW sebagai pedoman hidupnya.