Dahsyatnya Memperbanyak Istighfar: Kunci Ampunan, Pembuka Rezeki, dan Penenteram Hati Umat Muslim

Dahsyatnya Memperbanyak Istighfar: Kunci Ampunan, Pembuka Rezeki, dan Penenteram Hati Umat Muslim

Radarseluma.disway.id - Dahsyatnya Memperbanyak Istighfar: Kunci Ampunan, Pembuka Rezeki, dan Penenteram Hati Umat Muslim--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Istighfar adalah amalan yang ringan di lisan, namun sangat besar dampaknya dalam kehidupan seorang Muslim. Di tengah kesibukan dunia, tekanan ekonomi, problem keluarga, serta kegelisahan hati, istighfar menjadi oase spiritual yang mampu menenangkan jiwa dan membuka pintu-pintu keberkahan. Memperbanyak istighfar bukan hanya amalan orang yang merasa berdosa, tetapi juga ciri orang-orang saleh yang senantiasa ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 
Menariknya, istighfar bukan sekadar permohonan ampun, tetapi juga sarana perbaikan diri, pengundang rahmat, serta pembuka rezeki yang seringkali tidak disangka-sangka. Dalam Al-Qur’an dan hadits, perintah dan anjuran memperbanyak istighfar disebutkan berulang kali, menunjukkan betapa pentingnya amalan ini dalam kehidupan seorang hamba.
 
Pengertian dan Makna Istighfar
Secara bahasa, istighfar berasal dari kata “ghafara” yang berarti menutup atau mengampuni. Secara istilah, istighfar adalah memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, disertai penyesalan dan tekad untuk tidak mengulanginya.
 
Allah SWT berfirman:
 
وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
 
Artinya: “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106)
 
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar adalah perintah langsung dari Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW yang maksum (terjaga dari dosa) pun tetap memperbanyak istighfar setiap hari.
 
Teladan Rasulullah SAW dalam Beristighfar
 
Dalam sebuah hadits sahih disebutkan:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Artinya:
“Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)
 
Jika Rasulullah SAW saja yang dijamin surga dan diampuni dosa-dosanya masih memperbanyak istighfar, maka bagaimana dengan kita yang penuh kekhilafan? Ini menjadi cermin bahwa istighfar adalah kebutuhan, bukan sekadar ritual.
 
 
Istighfar Pembuka Rezeki dan Keberkahan
 
Salah satu keutamaan istighfar adalah membuka pintu rezeki dan keberkahan hidup. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
 
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
Artinya:
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, dan Dia akan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai.’”  (QS. Nuh: 10-12)
 
Ayat ini menjelaskan secara gamblang bahwa istighfar bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga mendatangkan keberkahan duniawi seperti rezeki, keturunan, dan kemakmuran.
 
Istighfar Menghilangkan Kegelisahan dan Kesempitan Hidup
 
Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan:
 
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
 
Artinya: “Barang siapa yang membiasakan istighfar, maka Allah akan menjadikan untuknya dari setiap kesedihan jalan keluar, dari setiap kesempitan kelapangan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
 
Betapa luar biasanya janji Allah bagi orang yang istiqamah dalam istighfar. Ketika hidup terasa sempit, hati gelisah, dan persoalan datang bertubi-tubi, memperbanyak istighfar adalah solusi spiritual yang sering dilupakan.
 
Waktu-Waktu Terbaik Memperbanyak Istighfar
 
Beberapa waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak istighfar antara lain:
Setelah shalat fardhu
Rasulullah SAW selalu beristighfar tiga kali setelah salam.
 
Sepertiga malam terakhir
Allah memuji orang-orang yang beristighfar di waktu sahur:
 
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
 
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
 
Setiap saat tanpa batas waktu
Istighfar bisa dilakukan kapan saja; di perjalanan, saat bekerja, bahkan di sela aktivitas harian.
 
Bagi kita yang hidup di era modern dengan berbagai tekanan, memperbanyak istighfar di sela kesibukan adalah bentuk dzikir yang praktis namun sangat bernilai.
Bentuk-Bentuk Istighfar
Beberapa lafaz istighfar yang dianjurkan:
Astaghfirullah (أستغفر الله)
Sayyidul Istighfar, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
 
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ...
 
Doa ini disebut sebagai penghulu istighfar dan memiliki keutamaan besar jika dibaca pagi dan petang dengan penuh keyakinan. (HR. Bukhari)
 
 
Dampak Spiritual dan Sosial dari Istighfar
 
Istighfar tidak hanya berdampak pada hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan horizontal dengan sesama manusia. Orang yang rajin beristighfar akan memiliki hati yang lebih lembut, lebih mudah memaafkan, serta tidak mudah sombong.
 
Istighfar juga membentuk karakter rendah hati. Seseorang yang sadar akan dosanya tidak akan mudah meremehkan orang lain. Inilah rahasia mengapa masyarakat yang dekat dengan istighfar cenderung lebih damai dan harmonis.
 
Memperbanyak istighfar adalah amalan sederhana yang memiliki dampak luar biasa dalam kehidupan seorang Muslim. Ia menghapus dosa, membuka pintu rezeki, menenangkan hati, serta menjadi sebab turunnya rahmat dan keberkahan Allah
 
Di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan, memperbanyak istighfar adalah solusi yang seringkali terlupakan. Padahal, ia adalah amalan yang tidak membutuhkan biaya, tidak memerlukan tempat khusus, dan tidak dibatasi waktu. Istighfar bisa kita lantunkan saat berjalan, berkendara, bekerja, bahkan ketika hati sedang gelisah dan pikiran terasa berat.
 
Sebagai jurnalis dan insan media yang setiap hari bergelut dengan informasi, dinamika sosial, serta berbagai persoalan umat, kita tentu menyadari betapa manusia tidak pernah luput dari salah dan khilaf. Oleh karena itu, istighfar bukan hanya kebutuhan pribadi, tetapi juga kebutuhan moral dan spiritual dalam menjalankan amanah profesi. Dengan istighfar, hati menjadi lebih jernih, pikiran lebih tenang, dan langkah hidup lebih terarah.
 
Marilah kita menjadikan istighfar sebagai kebiasaan harian. Minimal seratus kali sehari sebagaimana dicontohkan para ulama, atau mengikuti teladan Rasulullah SAW yang beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Jangan menunggu dosa besar untuk beristighfar, karena setiap detik hidup kita tidak pernah lepas dari kekurangan.
 
Semoga dengan memperbanyak istighfar, Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki, menenangkan hati, mengangkat derajat, serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa dekat dengan-Nya.
Akhirnya, mari kita tutup dengan doa sederhana namun penuh makna:
 
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
 
Artinya: “Ya Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
 
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak pernah lelah beristighfar, karena di balik istighfar terdapat rahasia keberkahan hidup yang luar biasa.(djl)

Sumber:

Berita Terkait