Di tengah kehidupan modern yang penuh ambisi, persaingan, dan ekspektasi sosial, mudah sekali manusia terjerumus dalam niat yang tercampur antara dunia dan akhirat. Sebagai contoh, seseorang yang berdakwah, bisa saja niatnya berubah karena ingin popularitas. Seseorang yang bekerja, bisa jadi hanya mengejar pujian atau harta tanpa mengingat tujuan akhir.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:
"وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ"
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini mengajarkan pentingnya keikhlasan dalam setiap bentuk ibadah, baik yang bersifat ritual maupun sosial. Oleh sebab itu, momentum Safar harus dijadikan sebagai ajang muhasabah: apakah kita masih menyimpan keikhlasan, atau sudah tertutupi oleh ambisi dunia?
Safar: Momentum Introspeksi dan Pembaruan Diri
Safar dapat dimaknai sebagai fase kehidupan yang mengajak manusia untuk berpindah dari keterikatan dunia menuju penghambaan sejati. Kata "Safar" sendiri secara bahasa berarti "perjalanan" dan sejatinya hidup manusia adalah perjalanan menuju akhirat.
Nabi Muhammad Rasulullah SAW sendiri banyak memberikan teladan akan pentingnya melakukan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) dan memperbaharui niat. Dalam sebuah doa, Rasulullah mengajarkan:
"اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا"
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, dan dari keburukan setiap makhluk yang Engkau pegang ubun-ubunnya.” (HR. Abu Dawud)
Doa ini menunjukkan bahwa introspeksi terhadap diri sendiri lebih penting daripada sekadar menyalahkan keadaan atau orang lain.
BACA JUGA:Tujuh Wasiat Bijak Ali bin Abi Thalib yang Menenangkan Hati: Kunci Hidup Penuh Cahaya dan Kedamaian
Bulan Safar dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah Islam, beberapa peristiwa penting terjadi pada bulan Safar, seperti sakitnya Rasulullah SAW menjelang wafat, dan beberapa peperangan besar seperti Perang Bi’r Ma’unah. Namun, para ulama menegaskan bahwa peristiwa-peristiwa itu bukanlah bukti bahwa bulan Safar adalah bulan sial, melainkan ujian yang datang pada waktu yang telah Allah tentukan.
Makna yang dapat diambil justru bagaimana kaum Muslimin dahulu menghadapi segala kesulitan dengan kekuatan iman dan keikhlasan.
Menata Hidup, Menyucikan Niat