Menjaga Semangat Tilawah Al-Qur’an: Menyalakan Cahaya Iman di Setiap Lembar Kehidupan

Menjaga Semangat Tilawah Al-Qur’an: Menyalakan Cahaya Iman di Setiap Lembar Kehidupan

Radarseluma.disway.id - Menjaga Semangat Tilawah Al-Qur’an: Menyalakan Cahaya Iman di Setiap Lembar Kehidupan--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Al-Qur’an adalah cahaya yang Allah turunkan sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Ia bukan sekadar kitab suci yang dibaca ketika Ramadhan tiba, tetapi merupakan pedoman yang seharusnya senantiasa hadir dalam denyut kehidupan seorang Muslim. Namun realitasnya, semangat tilawah seringkali hanya membara di awal Ramadhan, lalu meredup seiring kesibukan dunia yang kembali menyita waktu dan perhatian.
 
Padahal, menjaga semangat tilawah Al-Qur’an berarti menjaga hubungan dengan Allah SWT. Ketika seorang hamba dekat dengan Al-Qur’an, hatinya akan lembut, pikirannya jernih, dan langkah hidupnya terarah. Karena itu, menjaga konsistensi membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an adalah bagian dari menjaga keimanan itu sendiri.
 
Keutamaan Membaca Al-Qur’an
 
Allah SWT berfirman:
 
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
 
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Al-Qur'an, Surah Fatir: 29)
 
Ayat ini menjelaskan bahwa tilawah bukan sekadar aktivitas membaca, tetapi investasi akhirat. Allah menyebutnya sebagai “perniagaan yang tidak akan merugi.” Artinya, setiap huruf yang dibaca bernilai pahala dan menjadi bekal di hari akhir.
 
Rasulullah SAW bersabda:
 
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
 
Artinya: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.”(HR. Muhammad melalui riwayat At-Tirmidzi)
 
Hadits ini menunjukkan betapa besar pahala tilawah. Bahkan satu huruf saja bernilai sepuluh kebaikan. Maka bagaimana mungkin kita meremehkan amalan yang ringan di lisan namun berat di timbangan amal?
 
 
Tantangan Menjaga Konsistensi Tilawah
 
Menjaga semangat tilawah bukan perkara mudah. Ada beberapa tantangan yang sering dihadapi:
 
1. Kesibukan Duniawi 
 
Pekerjaan, urusan keluarga, dan aktivitas sosial seringkali membuat Al-Qur’an tersisih.
 
2. Godaan Teknologi  
 
Waktu lebih banyak tersita untuk media sosial daripada membaca mushaf.
 
3. Futur (Kelemahan Iman)  
 
Semangat yang naik turun menjadi sebab utama terhentinya tilawah.
 
Padahal Allah SWT telah memperingatkan:
 
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
 
Artinya: “Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Qur'an, Surah Al-Furqan: 30)
 
Ayat ini adalah peringatan keras agar kita tidak termasuk golongan yang meninggalkan Al-Qur’an. Meninggalkan bukan hanya berarti tidak membacanya, tetapi juga tidak mengamalkan dan mentadabburinya.
 
Strategi Menjaga Semangat Tilawah
 
Agar tilawah tetap terjaga, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:
 
1. Meluruskan Niat
 
Segala amal tergantung niat. Niatkan membaca Al-Qur’an semata-mata karena Allah. Bukan karena ingin dipuji atau sekadar menggugurkan kewajiban spiritual.
 
2. Menentukan Target Harian
 
Target kecil namun konsisten lebih baik daripada banyak namun terputus. Misalnya satu halaman sehari atau satu juz dalam sepekan. Rasulullah SAW bersabda:
 
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
 
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Muhammad melalui riwayat Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
 
Konsistensi adalah kunci utama dalam menjaga hubungan dengan Al-Qur’an.
 
3. Memilih Waktu Terbaik
 
Waktu selepas Subuh atau sebelum tidur seringkali menjadi momen yang tenang untuk tilawah. Allah berfirman:
 
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
 
Artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Qur'an, Surah Al-Muzzammil: 6)
 
Ayat ini menunjukkan bahwa suasana sunyi malam sangat mendukung kekhusyukan dalam membaca Al-Qur’an.
 
4. Membaca dengan Tadabbur
 
Tilawah bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas. Allah SWT berfirman:
 
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
 
Artinya: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS. Al-Qur'an, Surah An-Nisa: 82)
 
Merenungi makna ayat akan membuat hati lebih terikat dengan Al-Qur’an dan menjadikan tilawah sebagai kebutuhan ruhani.
 
 
Buah dari Menjaga Tilawah
 
Orang yang menjaga tilawah akan merasakan ketenangan batin. Allah berfirman:
 
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
 
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Al-Qur'an, Surah Ar-Ra'd: 28)
 
Al-Qur’an adalah dzikir yang paling agung. Maka siapa yang dekat dengannya akan mendapatkan ketenangan sejati.
 
Selain itu, tilawah akan menjadi syafaat di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda:
 
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
 
Artinya: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.”(HR. Muslim ibn al-Hajjaj)
 
Betapa beruntungnya orang yang menjadikan Al-Qur’an sahabat setia di dunia, karena ia akan menjadi penolongnya di akhirat.
 
Menjaga semangat tilawah adalah upaya menjaga cahaya iman agar tidak redup. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan musiman, melainkan sumber kehidupan yang harus senantiasa menyertai langkah seorang Muslim. Dengan niat yang lurus, target yang konsisten, waktu yang tepat, serta tadabbur yang mendalam, semangat tilawah dapat terus terjaga.
 
Semoga kita termasuk golongan hamba yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan. Jadikanlah setiap lembar yang dibaca sebagai cahaya yang menerangi hati, penuntun langkah, dan saksi amal di hadapan Allah SWT. Karena sejatinya, menjaga tilawah berarti menjaga hubungan dengan Rabb semesta alam. (djl)

Sumber:

Berita Terkait