Bulan Safar bukan bulan sial. Ia adalah bagian dari ketetapan Allah, sebagaimana bulan-bulan lainnya. Justru di bulan inilah kita diajak untuk melakukan refleksi terdalam: sejauh mana hidup kita dijalani karena Allah, atau justru karena motif duniawi yang menyesatkan?
Menjadikan Safar sebagai momentum menyucikan niat adalah bentuk nyata dari hijrah hati — berpindah dari keterikatan dunia ke penghambaan sejati kepada Allah SWT.
Dalam dunia yang makin hiruk-pikuk, kita butuh waktu untuk jeda dan merenung. Safar bisa menjadi “bulan jeda” spiritual untuk menyaring ulang niat-niat dalam hati. Mari kita maknai bulan ini sebagai saat terbaik untuk menata kembali jalan hidup agar selaras dengan tujuan penciptaan manusia: beribadah kepada Allah dengan ikhlas.
Semoga setiap langkah dan amal kita dimulai dan dijalani dengan niat yang bersih, agar kelak kita menuai hasil terbaik di sisi-Nya. (djl)