إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
Artinya: “Jika telah masuk sepuluh (hari pertama Zulhijjah) dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1977)
Larangan ini menunjukkan betapa mulianya amalan berkurban, hingga orang yang hendak berkurban diminta untuk menjaga kesucian tubuhnya seperti halnya orang yang berihram.
BACA JUGA:Dzulqa’dah: Bulan untuk Meningkatkan Kepedulian terhadap Sesama
Menghidupkan Sunnah dalam Ibadah dan Etika Sehari-Hari
Selain ibadah ritual, menghidupkan sunnah juga mencakup akhlak mulia: berkata jujur, menjaga amanah, tidak menyakiti sesama, dan memperbaiki hubungan sosial. Bulan Zulhijjah yang penuh rahmat ini bisa menjadi titik awal hijrah menuju pribadi yang lebih baik dengan berpegang pada teladan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam.
Dari penjelasan di atas maka dapat kita simpulkan bahwa Bulan Zulhijjah adalah ladang amal yang luas bagi kaum Muslimin. Di dalamnya terdapat berbagai peluang untuk menghidupkan sunnah Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam, dari amalan lisan seperti dzikir dan takbir, hingga amalan fisik seperti puasa, sedekah, dan kurban. Menghidupkan sunnah tidak hanya memperkaya pahala, tetapi juga menghidupkan hati dengan cahaya iman dan memperkuat identitas keislaman kita.
Mari jadikan bulan Zulhijjah sebagai momentum untuk memperbarui semangat ibadah, menata ulang hati, dan menghidupkan kembali sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan kita. Setiap detik di bulan ini amat berharga. Jangan biarkan ia berlalu tanpa makna. Semoga Allah menerima amal kita dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang istiqamah di atas sunnah hingga akhir hayat. (djl)