3. Diberi Ketenangan Hati
Hati yang bersyukur akan dipenuhi ketenangan, tidak gelisah oleh kekurangan, dan tidak iri terhadap orang lain.
BACA JUGA:Pentingnya Menjaga Amanah dalam Kehidupan
Syukur dalam Setiap Keadaan
Syukur tidak hanya dilakukan ketika dalam kelapangan. Justru Muslim sejati adalah yang tetap bersyukur meski dalam kesempitan. Ini bukan berarti menafikan kesulitan, tapi mengakui bahwa selalu ada nikmat yang masih tersisa untuk disyukuri. Rasulullah SAW sendiri, meski hidup dalam kesederhanaan, tetap menjadi teladan dalam rasa syukur.
Contoh Nyata Syukur Rasulullah SAW
Dijelaskan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang mana disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟
Artinya: Dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW berdiri (shalat) malam hingga kakinya bengkak. Maka aku berkata, ‘Mengapa engkau lakukan ini, wahai Rasulullah, padahal dosamu yang lalu dan yang akan datang telah diampuni?’ Beliau menjawab, ‘Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?’ (HR. Bukhari no. 4837, Muslim no. 2820)
Ini menunjukkan bahwa bersyukur bukan sekadar ekspresi pasif, tapi juga dibuktikan dengan ibadah dan pengorbanan.
BACA JUGA:Keutamaan Beristighfar dalam Kehidupan
Mengapa Banyak Orang Lalai dari Syukur?
Banyak orang lalai bersyukur karena:
*'Terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, bukan pada apa yang sudah ada.
*Terpengaruh gaya hidup konsumtif dan membandingkan diri dengan orang lain.
*Kurangnya tafakkur dan dzikir yang mengingatkan pada kebaikan Allah.