Jepang Tetap Jalankan Kesepakatan Dagang dengan AS Meski MA Batalkan Tarif Trump
Presiden AS bersama PM Japan--
JAKARTA – Jepang dan Amerika Serikat sepakat tetap menjalankan kesepakatan perdagangan yang telah dicapai pada 2025, meskipun Mahkamah Agung (MA) AS membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump.
Kesepakatan dagang tersebut sebelumnya memangkas ancaman tarif impor AS terhadap produk Jepang dari 25 persen menjadi 15 persen. Sebagai timbal balik, Jepang berkomitmen menanamkan investasi senilai US$550 miliar atau sekitar Rp9.254 triliun di Amerika Serikat.
BACA JUGA:Siaga 1! Trump Ancam Serang Iran, AS Tarik Staf Non-Darurat dari Kedutaan di Lebanon
BACA JUGA:Wamen ATR/BPN Apresiasi Peran MAPPI Jaga Integritas Sistem Penilaian Tanah Nasional
Pemerintah Jepang menegaskan komitmennya dalam pernyataan resmi pada Selasa (24/2/2026). Penegasan itu disampaikan menyusul komunikasi antara Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa terkait proyek investasi perdana senilai US$36 miliar di bawah kerangka kerja sama tersebut.
Dalam keterangan resminya, Kementerian Perdagangan Jepang menyampaikan bahwa pihaknya meminta agar Jepang tidak diperlakukan kurang menguntungkan dibandingkan dengan ketentuan yang telah disepakati sebelumnya, meski ada kebijakan tarif baru dari pemerintah AS.
“Kedua menteri menegaskan kembali bahwa Jepang dan Amerika Serikat akan tetap setia dan segera melaksanakan kesepakatan yang telah dicapai tahun lalu,” demikian pernyataan resmi tersebut.
Komitmen Stabilitas Perdagangan
Langkah Jepang ini menunjukkan komitmen Tokyo dalam menjaga stabilitas hubungan dagang bilateral, terutama di tengah dinamika hukum dan politik di AS. Meski Mahkamah Agung membatalkan tarif resiprokal yang menjadi bagian dari kebijakan perdagangan Trump, pemerintah Jepang memilih tetap berpegang pada kesepakatan yang sudah dirundingkan.
Sikap ini dinilai sebagai strategi diplomatik untuk menjaga kepastian investasi dan stabilitas ekspor, mengingat Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang utama Jepang.
Berbeda dengan Sikap Uni Eropa
Sumber: