Ramadhan Hampir Pergi, Sudahkah Hati dan Amal Kita Benar-Benar Siap Berpisah?
Rabu 18-03-2026,12:00 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id - Ramadhan Hampir Pergi, Sudahkah Hati dan Amal Kita Benar-Benar Siap Berpisah?--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Tak terasa, hari-hari penuh rahmat itu kian menipis. Bulan yang di dalamnya pintu langit dibuka lebar, doa-doa diijabah, dan ampunan Allah SWT mengalir deras, kini hampir meninggalkan kita. Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan madrasah ruhani yang mendidik jiwa, membersihkan hati, serta menguatkan iman dan taqwa.
Pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar siap berpisah? Sudahkah Ramadhan membekas dalam diri, atau ia berlalu begitu saja tanpa makna mendalam?
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan tujuan utama Ramadhan: membentuk pribadi yang bertaqwa. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan melatih jiwa untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.
Ramadhan: Madrasah Perubahan Diri
Ramadhan adalah bulan tarbiyah.bulan pendidikan jiwa. Di dalamnya kita dilatih untuk:
• Menahan hawa nafsu
• Mengendalikan emosi
• Memperbanyak ibadah
• Memperkuat kepedulian sosial
• Mendekatkan diri kepada Al-Qur’an
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Hadits ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum penghapusan dosa. Namun ampunan itu diberikan kepada mereka yang menjalani puasa dengan iman yang tulus dan harapan pahala yang sungguh-sungguh.
Bila setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama lalai shalat, ringan berbuat maksiat, enggan bersedekah maka bisa jadi Ramadhan belum benar-benar menyentuh hati kita.
Tanda-Tanda Ramadhan Diterima
Para ulama menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal adalah ketika seseorang menjadi lebih baik setelah ibadah itu dilakukan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Ramadhan seharusnya melahirkan pribadi yang:
✔ Lebih rajin shalat
✔ Lebih lembut lisannya
✔ Lebih jujur dalam perbuatan
✔ Lebih peduli pada sesama
✔ Lebih cinta Al-Qur’an
✔ Lebih kuat menjaga hati
Jika sebelum Ramadhan kita berat melangkah ke masjid, namun setelahnya hati terasa ringan menuju sajadah itulah pertanda kebaikan.
Jika sebelumnya kita mudah marah, namun kini lebih sabar.itulah buah pendidikan Ramadhan.
Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Sia-Sia
Betapa ruginya mereka yang melewati Ramadhan tanpa ampunan. Rasulullah SAW bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
Artinya: “Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR. Muhammad ibn Isa at-Tirmidzi)
Hadits ini adalah peringatan keras. Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang tahun depan. Usia manusia tak pernah dijamin panjang.
Maka menjelang perpisahan Ramadhan, sudah sepatutnya kita melakukan muhasabah:
• Apakah tilawah kita meningkat?
• Apakah shalat malam kita istiqamah?
• Apakah sedekah kita bertambah?
• Apakah hati kita lebih bersih?
Ramadhan adalah cermin. Ia memperlihatkan kualitas iman kita yang sebenarnya.
Bekal Menuju Hari Kemenangan
Hari raya bukan sekadar perayaan pakaian baru dan hidangan lezat. Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah jiwa yang bersih dan hati yang suci.
Allah SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ • وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan dia mengingat nama Tuhannya lalu dia shalat.” (QS. Al-A'la: 14–15)
Kemenangan sejati adalah ketika jiwa menjadi lebih bersih dan ibadah semakin kokoh.
Ramadhan mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak terletak pada dunia yang gemerlap, melainkan pada hati yang dekat dengan Allah SWT.
Ramadhan adalah tamu agung yang sarat kemuliaan. Ia datang membawa ampunan, rahmat, dan kesempatan perubahan. Namun kini ia hampir pergi.
Sudah siapkah kita berpisah?
Siapkah hati yang telah ditempa sebulan penuh untuk tetap istiqamah?
Siapkah amal yang telah dibangun untuk terus dijaga?
Jika Ramadhan menjadikan kita lebih taat, maka itulah keberhasilan. Namun jika kita kembali lalai, maka kita termasuk orang-orang yang merugi.
Mari kita akhiri Ramadhan dengan taubat yang tulus, doa yang khusyuk, dan tekad yang kuat untuk istiqamah. Jangan biarkan Ramadhan menjadi kenangan tanpa perubahan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang.
Mari kita jaga iman, kuatkan taqwa, dan istiqamah di jalan-Nya. (djl)
Sumber: