"أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ"
(HR. Muslim, no. 1163)
Artinya: "Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim, no. 1163)
Ulama salaf seperti Imam Asy-Syafi’i dikenal mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali dalam bulan-bulan mulia.
Memperbanyak Istighfar dan Dzikir
Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Adz-Dzariyat ayat 18
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
Artinya: "Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Ini menjadi motivasi bagi ulama salaf untuk menghidupkan sepertiga malam terakhir dengan istighfar.
Menuntut Ilmu dan Membaca Hadits
Imam Malik bin Anas memuliakan malam-malam mulia dengan mengajarkan hadits dan menyemangati murid-muridnya untuk memaksimalkan amal ibadah.
BACA JUGA:Meneladani Kesabaran Nabi Muhammad Rasulullah SAW di Bulan Dzulqa’dah
Mengapa Harus Menghidupkan Malam Dzulqa’dah?
Ada beberapa alasan mengapa malam-malam Dzulqa’dah layak dihidupkan:
Termasuk bulan haram yang dilipatgandakan nilai amal dan dosanya.
Sebagai bentuk persiapan ruhani menjelang Dzulhijjah dan ibadah haji.
Menyambut datangnya 10 hari terbaik sepanjang tahun, yakni awal Dzulhijjah.
Dalam Tafsir Al-Qurthubi, disebutkan bahwa orang yang memuliakan bulan-bulan haram dengan amal shalih akan mendapatkan pahala yang lebih besar. Sebaliknya, orang yang bermaksiat di dalamnya akan lebih berat dosanya.
Kebiasaan Ulama Salaf di Malam Bulan Haram