Menghidupkan Malam di Bulan Dzulqa’dah: Tradisi Ulama Salaf

Sabtu 03-05-2025,15:30 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan

Ibnu Rajab menyebutkan bahwa para salaf memuliakan setiap malam dari bulan-bulan haram sebagaimana mereka memuliakan malam-malam di Ramadhan. Bahkan sebagian mereka menghidupkan malam-malam itu seolah sebagai bentuk tawajjuh atau penghadapan khusus kepada Allah.

Contoh-contoh lain seperti:

Imam Ahmad bin Hanbal memperbanyak i'tikaf dan qiyamul lail pada bulan-bulan haram.

Hasan Al-Bashri berkata: “Berbuat baiklah pada bulan haram, karena dosa padanya lebih besar dan pahala kebaikan lebih agung.”

Refleksi dan Penutup

Menghidupkan malam di bulan Dzulqa’dah bukanlah sekadar rutinitas ibadah, melainkan warisan spiritual para ulama salaf yang patut diteladani. Dalam zaman yang penuh distraksi ini, menghidupkan malam dengan ibadah adalah jalan menenangkan hati dan memperkuat hubungan dengan Allah.

Mari kita manfaatkan malam-malam bulan Dzulqa’dah untuk memperbanyak amal shalih, memperbanyak taubat, dan merenungi perjalanan hidup. Jangan sampai waktu berlalu sia-sia tanpa makna.

Sebagaimana firman Allah:

وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا 

Artinya: "Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka."  (QS. Al-Furqan: 64)

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Bulan Dzulqa’dah bukan hanya bulan persiapan menuju ibadah haji, tapi juga momentum mendekat kepada Allah melalui amalan-amalan sunnah di malam hari. Menghidupkan malam di bulan ini telah menjadi tradisi mulia para ulama terdahulu yang patut kita hidupkan kembali. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan waktu dengan amal kebaikan dan meraih keberkahan malam-malam Dzulqa’dah. (djl) 

 

Kategori :