Abu Nawas tersenyum lebar. Tantangan seperti ini justru membuat semangatnya kembali hidup. “Baiklah, Tuanku. Akan aku lakukan.”
Keesokan harinya, pasar Baghdad riuh seperti biasa. Tapi kali ini, ada satu suara yang membuat semua orang berhenti.
“Wahai warga Baghdad! Lihatlah! Pasir ajaib yang bisa berubah menjadi emas murni jika dicampur dengan air sungai Tigris saat fajar!” seru Abu Nawas sambil mengangkat kantong pasir.
Anak-anak tertawa. Orang tua mengernyit. Para pedagang mulai memperhatikan. Dan tentu saja, para saudagar kaya yang tamak mulai tertarik.
“Benarkah bisa menjadi emas?” tanya seorang saudagar gemuk yang terkenal pelit.
“Tentu bisa,” jawab Abu Nawas, “tapi hanya jika dilakukan dengan hati bersih dan niat yang tulus.”
BACA JUGA:Kisah: Abu Nawas dan Raja yang Ingin Terbang
Beberapa orang mulai merogoh kantong. “Berapa harganya?”
“Tak mahal. Hanya dua dirham per kantong. Tapi ingat, hanya dijual hari ini, karena esok pasirnya kehilangan khasiat.”
Karena takut kehabisan, orang-orang pun berebut membeli. Ada yang beli satu, ada yang beli sepuluh. Pasar berubah seperti pesta. Abu Nawas pulang dengan kantong penuh uang dan wajah kembali ceria.
Esok harinya, sebelum fajar, orang-orang berbondong ke sungai Tigris. Mereka menuangkan pasir ke air, berharap muncul emas. Tapi... nihil. Tidak ada yang terjadi selain pasir yang hanyut bersama arus.
Marah, mereka berbondong ke rumah Abu Nawas.
“Abu Nawas! Kau penipu!”
Namun Abu Nawas dengan tenang berdiri di depan rumahnya. Ia mengangkat tangan, meminta semua diam.
“Sahabat-sahabatku, aku tidak berbohong. Aku hanya bilang bahwa pasir itu bisa berubah menjadi emas jika dicampur dengan air sungai saat fajar, dan hanya orang yang berhati bersih serta niat tulus yang bisa melihat hasilnya.”
Semua saling memandang. Mereka sadar: mereka membeli pasir bukan karena percaya atau tulus, tapi karena tamak dan tergiur untung besar. Perlahan, amarah mereka padam, digantikan rasa malu.