Perbaiki niat sebelum beramal.
Tanyakan kepada diri sendiri, “Untuk siapa saya berbuat ini?”
Berdoa agar diberi hati yang ikhlas.
Rasulullah SAW sering berdoa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلَا تَجْعَلْ فِيهِ لِأَحَدٍ غَيْرِكَ شَيْئًا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah amalanku amal yang saleh dan semata-mata untuk wajah-Mu, dan jangan Engkau jadikan di dalamnya sesuatu untuk selain-Mu.”
Jauhi pujian dan popularitas.
Seorang mukmin sejati tidak sibuk mencari pujian manusia, tapi ridha Allah SWT.
Beramal secara diam-diam.
Amalan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih selamat dari riya.
BACA JUGA:Meningkatkan Ketulusan dalam Beribadah di Bulan Dzulqa’dah
Dari penjelasan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Tanpa ikhlas, amal tak memiliki nilai di sisi Allah. Bulan Dzulqa’dah adalah momen tepat untuk kembali memurnikan niat dan menyempurnakan amal ibadah yang kita lakukan. Jangan sampai amal-amal kita hanya menjadi debu yang berterbangan karena tidak disertai keikhlasan.
Marilah kita jadikan bulan Dzulqa’dah sebagai ladang untuk memperbaiki kualitas ibadah kita, bukan hanya dari segi kuantitas, tetapi juga dari sisi niat dan tujuan. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa menjaga keikhlasan dalam setiap ucapan, tindakan, dan ibadah. Amin. (djl)