"لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِندَ الْغَضَبِ"
Artinya: "Bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang dapat mengalahkan orang lain, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika sedang marah." (HR. Bukhari)
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati tidak diukur dari kemampuan untuk mengalahkan orang lain, tetapi dari kemampuan untuk mengendalikan diri ketika amarah datang. Bulan Dzulqa'dah adalah waktu yang tepat untuk berlatih mengendalikan emosi, karena menahan amarah adalah tanda kedewasaan dan kekuatan jiwa yang hakiki.
Selain itu, Rasulullah SAW juga memberikan petunjuk bagi kita yang sedang marah, agar tidak melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda yang mana berbunyi:
"إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنَّ الْغَضَبَ رِيحٌ مّنْ الشَّيْطَانِ"
Artinya: "Jika salah seorang di antara kalian marah, maka hendaknya ia diam, jika ia sedang berdiri maka hendaknya ia duduk, jika masih marah maka hendaknya ia berbaring." (HR. Muslim)
Hadits ini mengajarkan kita untuk mengubah posisi tubuh kita saat marah, sebagai langkah awal untuk menenangkan diri. Dalam konteks bulan Dzulqa'dah, kita diingatkan untuk selalu menjaga kesabaran dan menghindari perbuatan yang dapat merusak hubungan dengan sesama. Rasulullah SAW mengajarkan cara-cara praktis untuk mengatasi amarah, agar tidak menyesal nantinya.
BACA JUGA:Menjaga Lisan dan Perbuatan di Bulan Dzulqa’dah
Manfaat Menahan Amarah di Bulan Dzulqa'dah
Menahan amarah memiliki banyak manfaat, baik secara pribadi maupun sosial. Secara pribadi, menahan amarah adalah tanda kedewasaan dan kekuatan jiwa. Ketika seseorang dapat mengendalikan emosinya, ia akan lebih tenang dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Menahan amarah juga akan membebaskan hati dari kebencian dan perasaan negatif, yang akan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
Secara sosial, menahan amarah akan menciptakan kedamaian dalam masyarakat. Jika setiap individu dapat mengendalikan emosinya dan tidak mudah marah, hubungan antar sesama akan lebih harmonis dan tidak mudah terpecah belah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Abu Dawud yang mana berbunyi:
"مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ فِي دُنْيَاهُ كَفَّ اللَّـهُ عَنْهُ عَذَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
Artinya: "Barang siapa yang menahan amarahnya, padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan makhluk yang seluruhnya, untuk memilih bidadari mana yang ia inginkan." (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menggambarkan betapa besar pahala bagi orang yang dapat menahan amarahnya, bahkan ketika ia memiliki kesempatan untuk melampiaskannya. Allah SWT akan memberikan balasan yang sangat besar di akhirat bagi orang yang bisa mengendalikan emosi mereka.
BACA JUGA:Setelah Syawal: Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Menahan amarah adalah salah satu ajaran penting dalam Islam, khususnya di bulan Dzulqa'dah. Bulan ini adalah waktu yang penuh berkah, di mana umat Islam diajarkan untuk lebih menjaga diri dan memperbaiki akhlak. Dalam Al-Qur’an dan Hadits, kita diajarkan untuk menahan amarah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan untuk menjaga keharmonisan dalam kehidupan sosial. Bulan Dzulqa'dah adalah waktu yang tepat untuk berlatih menahan amarah, agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih sabar dan pemaaf.