"Pelajaran dari Sejarah Kenabian dan Prinsip Syariah"
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Kondisi ekonomi dunia saat ini sedang dilanda ketegangan akibat perang dagang, terutama antara Amerika Serikat dan negara-negara besar lain. Perang dagang ini bukan sekadar soal tarif impor dan ekspor, melainkan cerminan perebutan dominasi ekonomi global. Dampaknya terasa luas, termasuk di negara-negara mayoritas Muslim yang memiliki ketergantungan terhadap produk luar negeri. Dalam menghadapi situasi seperti ini, umat Islam tidak cukup hanya mengikuti arus atau sekadar mengeluh. Kita dituntut untuk bersikap cerdas, adil, dan mandiri sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan sejarah Islam sendiri mencatat bagaimana para nabi, terutama Rasulullah SAW, menghadapi tekanan ekonomi dari pihak-pihak yang memusuhi mereka. Pandangan Islam terhadap Perang Dagang dan Ekonomi Global Islam memandang perdagangan sebagai aktivitas yang halal dan dianjurkan selama dijalankan dengan prinsip keadilan dan kejujuran. Dalam konteks konflik dagang global, umat Islam perlu memahami bahwa Islam menolak segala bentuk kezaliman, monopoli, dan eksploitasi ekonomi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-An'am ayat 152 yang mana berbunyi: وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ Artinya: "Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil..." (QS. Al-An’am: 152) Islam menolak segala bentuk ketimpangan dalam perdagangan yang merugikan pihak lain. Umat Islam diajarkan untuk berlaku adil, meskipun berada dalam tekanan dari kekuatan ekonomi global. BACA JUGA:Menghindari Sifat Sombong dan Merasa Paling Baik Kisah Sejarah: Pemboikotan Ekonomi terhadap Kaum Muslimin Perang dagang dalam bentuk tekanan ekonomi pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW, yaitu pada saat pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan kaum Muslimin di Syi'b Abu Thalib selama tiga tahun. Pemuka Quraisy sepakat memboikot seluruh aktivitas perdagangan dan hubungan sosial dengan kaum Muslimin. Tidak ada yang boleh membeli, menjual, menikah, atau berbicara dengan mereka. Apa yang dilakukan Rasulullah dan kaum Muslimin? Sabar dan Bertahan: Mereka bertahan dengan penuh kesabaran, meski harus makan dedaunan dan kulit pohon karena kelaparan. Kesabaran ini menjadi bukti keteguhan iman dan kekuatan spiritual dalam menghadapi tekanan ekonomi. Menjaga Persatuan: Meskipun dalam tekanan berat, umat Islam tetap menjaga solidaritas dan tidak tercerai-berai. Ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam krisis ekonomi, persatuan umat adalah kunci kekuatan. Membangun Alternatif: Rasulullah SAW mengarahkan para sahabat untuk membangun sistem perdagangan baru yang jujur dan bebas dari penindasan. Ini kemudian menjadi fondasi ekonomi Madinah saat hijrah, di mana kaum Muhajirin diberdayakan bersama kaum Anshar dalam sistem yang adil dan berdaya guna. BACA JUGA:Menghadapi Rintangan Hidup dengan Sabar dan Syukur Kisah Nabi Yusuf AS: Krisis Ekonomi dan Strategi Syariah Dalam kisah Nabi Yusuf AS, kita juga melihat bagaimana krisis ekonomi besar pernah melanda Mesir. Sebelum krisis itu terjadi, Nabi Yusuf yang dipercaya sebagai bendahara negara merancang sistem penyimpanan pangan strategis. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Yusuf ayat 47 yang berbunyi: قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ Artinya: "Yusuf berkata, 'Kamu akan bercocok tanam selama tujuh tahun sebagaimana biasa. Maka apa yang kamu panen hendaklah kamu tinggalkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk kamu makan.'" (QS. Yusuf: 47) Ayat ini mengajarkan pentingnya strategi ekonomi jangka panjang dalam menghadapi krisis. Nabi Yusuf tidak hanya mengandalkan doa, tetapi juga mengelola sumber daya secara cermat dan visioner. Sikap Bijak Umat Islam Saat Ini Menumbuhkan Kemandirian Ekonomi Umat Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang mana berbunyi: الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى Artinya: "Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah." (HR. Bukhari-Muslim) Hadis ini menunjukkan pentingnya menjadi umat yang memberi, bukan bergantung pada bangsa asing. Kemandirian ekonomi melalui usaha lokal, koperasi syariah, dan bisnis halal harus menjadi prioritas umat. Bersikap Adil dan Tidak Emosional Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 8 yang mana berbunyi: وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ Artinya: "Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma’idah: 8) Ini peringatan agar dalam menghadapi perang dagang sekalipun, umat Islam tidak menyikapinya dengan permusuhan yang membabi buta. BACA JUGA:Syawal sebagai Waktu untuk Menjaga Hati dari Maksiat Membangun Sistem Ekonomi Syariah yang Kuat Umat Islam perlu mencontoh strategi Nabi Yusuf dan Rasulullah dengan memperkuat sistem ekonomi internal: zakat, infak, wakaf produktif, dan perdagangan berbasis syariah. Perang dagang saat ini bukanlah hal baru dalam sejarah umat Islam. Rasulullah SAW dan para nabi terdahulu telah menunjukkan bagaimana menghadapi tekanan ekonomi dengan kesabaran, strategi, dan ketaatan kepada Allah. Kini saatnya umat Islam mengambil pelajaran itu untuk membangun sistem ekonomi yang mandiri, adil, dan bermartabat. Sabda Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Tirmidzi yang mana berbunyi: مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِ، عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا Artinya::"Barang siapa di pagi hari merasa aman, sehat, dan memiliki makanan hari itu, seolah dunia telah digenggamnya." (HR. Tirmidzi) Kesejahteraan sejati bukan terletak pada dominasi global, tetapi pada keberkahan, ketenangan, dan kemandirian. Maka mari kita perkuat ekonomi umat, dan sikapi perang dagang ini dengan akal dan iman. (djl)Sikap Bijak Umat Islam dalam Menghadapi Perang Dagang Global: Pelajaran dari Sejarah Para Nabi dan Rasul
Jumat 25-04-2025,11:30 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan
Tags : #umatberdayasaing
#strategiekonomiislam
#radarseluma.disway.id
#pemboikotanmekah
#muslimproduktif
#krisisglobal
#kajian islam
#hijrahekonomi
#ekonomisyariah
#bijakhadapikrisis
#adildanberdaya
Kategori :
Terkait
Senin 13-04-2026,12:02 WIB
Target Hidup Dunia dan Akhirat: Menyatukan Kesuksesan Duniawi dan Kebahagiaan Abadi dalam Ridha Allah
Jumat 10-04-2026,15:00 WIB
Disiplin dalam Islam: Kunci Sukses Dunia dan Akhirat yang Sering Terabaikan
Jumat 10-04-2026,14:03 WIB
Waktu adalah Amanah: Jangan Biarkan Ia Berlalu Tanpa Makna dan Pertanggungjawaban di Hadapan Allah
Kamis 09-04-2026,16:39 WIB
Menjadi Muslim Produktif: Menggapai Keberkahan Hidup dengan Amal, Ilmu, dan Waktu yang Bernilai
Rabu 08-04-2026,14:00 WIB
Islam Rahmatan Lil ‘Alamin: Cahaya Kasih Sayang yang Menyinari Seluruh Alam Semesta
Terpopuler
Minggu 12-04-2026,17:41 WIB
Akses Keluar Masuk Masjid Falihin Belum Tuntas, Persiapan Seluma Disorot
Minggu 12-04-2026,16:07 WIB
Plastik Mahal, Gubernur Jakarta Minta Pedagang Makanan Manfaatkan Daun Pisang
Minggu 12-04-2026,15:10 WIB
Kejagung Masih Buru Riza Chalid, Telusuri Assetnya
Minggu 12-04-2026,18:00 WIB
Wujud Toleransi, Pembangunan GKPS di Air Petai Seluma
Senin 13-04-2026,13:00 WIB
PAW Anggota DPRD Seluma yang Meninggal, PKB Seluma Ajukan Lima Kandidat
Terkini
Senin 13-04-2026,14:19 WIB
MTQ Provinsi Bengkulu ke 37 Resmi Digelar, Bupati dan Sekdaprov Launching di TWK Seluma
Senin 13-04-2026,14:00 WIB
Depan Rumah, Motor Warga Seluma Digasak Curanmor
Senin 13-04-2026,13:00 WIB
PAW Anggota DPRD Seluma yang Meninggal, PKB Seluma Ajukan Lima Kandidat
Senin 13-04-2026,12:29 WIB
10 Pejabat Eslon II hasil Seleksi JPT Dilantik Walikota Bengkulu
Senin 13-04-2026,12:02 WIB