TANJUNG SELUAI, Radarseluma.disway.id - Polemik terkait kepemilikan dan pemanfaatan jalan sentra tani di Desa Tanjung Seluai, Kecamatan Seluma Selatan, kian memanas. Aksi pemblokiran jalan oleh sejumlah warga setempat tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu insiden baku hantam.
BACA JUGA: Pemkab Seluma Matangkan RKPD 2027 Lewat Musrenbang, Infrastruktur Jalan Jadi Prioritas
Peristiwa tersebut terjadi saat Rohmat seorang karyawan RAM sawit yang merupakan warga Kelurahan Padang Rambun, hendak melintasi jalan usaha tani yang selama ini menjadi akses utama masyarakat. Namun, upayanya terhenti setelah jalan tersebut diblokir oleh sekelompok warga yang mengklaim kepemilikan atas lahan tersebut.
Cekcok mulut tak terhindarkan. Situasi yang semula hanya adu argumen kemudian memanas hingga berujung pada aksi pengeroyokan. Rohmat mengaku menjadi korban pemukulan oleh beberapa orang saat mencoba melintas di jalan tersebut. Insiden ini segera mendapat perhatian aparat kepolisian. Kapolsek Seluma Timur, Erwin Sinaga, SSos bersama personel langsung turun ke lokasi untuk mengamankan situasi sekaligus melakukan pengecekan terhadap titik jalan yang diblokir.
Dari hasil penelusuran sementara, pemblokiran dilakukan oleh pihak yang mengklaim bahwa lahan tersebut merupakan milik keluarga mereka. Mereka menyebut tanah tersebut sebelumnya dihibahkan oleh orang tua, namun kini kembali diklaim sebagai hak pribadi.
Aksi pemblokiran ini berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat. Jalan sentra tani yang telah diaspal dan selama ini digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan, khususnya kelapa sawit, kini tidak dapat dilalui. Akibatnya, warga kesulitan mengeluarkan hasil panen dari kebun mereka.
Salah seorang warga Desa Tanjung Seluai, Arsin Suanto mengungkapkan bahwa jalan tersebut diyakini telah melalui proses pembebasan lahan sejak tahun 2002. Menurutnya, pembebasan itu dilakukan agar pemerintah daerah dapat membangun jalan usaha tani guna menunjang perekonomian warga.