Selain itu, sebanyak 13 anggota polisi dan anggota Basij yang merupakan bagian dari IRGC terluka akibat lemparan batu di wilayah tersebut, menurut laporan media pemerintah.
BACA JUGA:Rilis BNPB, Ada Penambahan Korban Sumatera Jadi 1.167 Orang
Para demonstran turun ke jalan untuk menuntut agar pemimpin tertinggi negara itu mundur. Beberapa orang juga terdengar menuntut pemberlakuan lagi sistem monarki.
Rentetan aksi protes di Iran ini dimulai dari kemarahan para pedagang di Tehran. Pemicunya adalah nilai mata uang Iran yang melemah terhadap dolar AS di pasar terbuka. Protes kemudian merembet ke berbagai lini.
Pada 30 Desember lalu, para mahasiswa ikut terlibat dan demonstrasi makin meluas ke beberapa kota. Sehari setelahnya, sekolah, universitas, dan lembaga publik ditutup di seluruh Iran.
Melalui pernyataan resmi, pemerintah Iran menyebut penutupan tersebut dilakukan dengan alasan penghematan energi akibat cuaca dingin. Namun, banyak warga Iran memandang ini sebagai upaya untuk mengendalikan massa dan meredam kerusuhan.
Gelombang demonstrasi kali ini merupakan aksi yang paling luas sejak pemberontakan pada 2022 karena kematian seorang perempuan muda bernama Mahsa Amini.
Saat itu, aksi terjadi usai Amini meninggal di dalam tahanan akibat tuduhan polisi moral tentang pemakaian jilbab yang tidak sesuai aturan. Akan tetapi, unjuk rasa kala itu skalanya tidak sebesar sekarang.