أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Marilah salat, marilah menuju kemenangan. Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah.”
Ketika Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda:
"إنها لرؤيا حق إن شاء الله، فقم مع بلال فألقها عليه، فليؤذن بها فإنه أندى صوتا منك"
Artinya: (“Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Maka pergilah engkau bersama Bilal, ajarkanlah kalimat-kalimat itu kepadanya, dan suruhlah Bilal mengumandangkannya karena suaranya lebih lantang darimu.”) (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Maka sejak saat itulah Bilal bin Rabah menjadi muadzin pertama dalam Islam, dan azan resmi menjadi panggilan suci untuk salat.
Dalil Al-Qur’an tentang Seruan Salat
Penetapan azan juga mendapat dasar dari Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Artinya:
“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk mengerjakan salat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 58)
Ayat ini menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, azan telah disyariatkan dan menjadi tanda khas umat Islam. Seruan itu bukan hanya panggilan untuk salat, melainkan juga simbol keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Makna dan Hikmah Azan
Setiap kalimat dalam azan mengandung makna mendalam dan filosofi spiritual yang meneguhkan keimanan seorang Muslim: