Di era modern, Aesan Gede menghadapi tantangan seperti penurunan penenun songket tradisional, biaya produksi songket asli, dan perubahan gaya hidup. Namun ada juga upaya pelestarian: workshop songket, kolaborasi desainer modern dengan motif tradisional, dan program pendidikan budaya di sekolah-sekolah. Penggunaan Aesan Gede sebagai pakaian pernikahan modern juga membantu menjaga relevansi budaya ini.
Dari penjelasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa Aesan Gede Palembang bukan sekadar busana adat ia adalah dokumen hidup yang merekam sejarah, estetika, dan nilai-nilai masyarakat Palembang. Dari keraton hingga pernikahan modern, ia memancarkan wibawa dan identitas yang tak lekang oleh waktu. Pelestarian Aesan Gede membutuhkan kolaborasi lintas-generasi: para penenun, desainer, komunitas, dan generasi muda harus bersama-sama menjaga teknik tenun, motif, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Melalui Aesan Gede, generasi kini dapat membaca kembali jejak-jejak sejarah Palembang, merasakan kebesaran masa lalu, dan merajut kebanggaan identitas. Menjaga Aesan Gede berarti menjaga sebuah bahasa budaya yang mengajarkan tentang kehormatan, estetika, dan akar sejarah sebuah warisan yang patut dirawat agar tetap bersinar di panggung kebudayaan Indonesia. (djl)