Sebagai perwira militer, ia ikut mengorganisir pasukan, melatih para pemuda, dan terlibat dalam berbagai pertempuran. Dedikasi dan keberaniannya menjadikan Latief sosok yang disegani.
Selain itu, ia juga aktif mendukung berbagai upaya diplomasi dan perjuangan politik untuk menguatkan kedaulatan bangsa. Meski tidak sering tampil di panggung depan sejarah, Latief terus berkontribusi bagi tegaknya Republik Indonesia.
BACA JUGA:Makam Renggo Jeno di Seluma Masuk Kajian Penetapan Cagar Budaya
Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat
Di balik ketegasannya sebagai tentara, Latief Hendraningrat adalah pribadi yang sederhana dan rendah hati. Ia tidak mencari ketenaran dari jasanya mengibarkan bendera pertama. Baginya, yang terpenting adalah Indonesia merdeka dan rakyat hidup bebas.
Latief wafat pada 14 Maret 1983 di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, sebagai penghormatan atas jasanya. Meski telah tiada, namanya tetap dikenang sebagai sosok yang membawa bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kali di bumi Indonesia merdeka.
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Kapten Latief Hendraningrat adalah contoh nyata pahlawan yang berjuang dengan tulus. Dari masa kecilnya yang sederhana, karier militernya di PETA, hingga peran monumental pada 17 Agustus 1945, ia membuktikan bahwa kemerdekaan tidak hanya hasil perjuangan tokoh besar, tetapi juga pengorbanan orang-orang yang siap mengambil peran tanpa pamrih.
Dengan penuh keberanian, ia mengibarkan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya, menjadi saksi lahirnya bangsa Indonesia. Perjuangannya setelah kemerdekaan pun menunjukkan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap tanah air.
Hari ini, setiap kali kita menyaksikan upacara bendera, kita patut mengingat jasa Kapten Latief Hendraningrat. Ia bukan hanya seorang perwira, tetapi simbol pengabdian, keberanian, dan cinta tanah air yang mendalam.
Semoga generasi muda tidak melupakan namanya, melainkan menjadikannya teladan untuk terus menjaga dan mengisi kemerdekaan. Sebab, bendera yang pertama kali ia kibarkan bukan sekadar kain merah putih, melainkan lambang darah dan tulang bangsa yang diperjuangkan dengan pengorbanan tanpa batas. (djl)