المسلم أخو المسلم، لا يظلمه ولا يُسلمه. ومن كان في حاجة أخيه، كان الله في حاجته
Artinya: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dalam kesulitan). Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk tertinggi dari ibadah adalah ketika seseorang bersedia membantu saudaranya yang sedang kesulitan.
Buah dari Kepedulian Sosial dalam Ibadah
Kepedulian sosial yang tumbuh dari ibadah memiliki banyak dampak positif, antara lain:
* Membentuk masyarakat yang penuh kasih sayang dan saling membantu.
* Mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi.
*'Menumbuhkan keimanan dan ketakwaan yang lebih kuat.
* Menjadi jalan memperoleh rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Sebaliknya, ibadah yang tidak melahirkan kepedulian sosial bisa menjadi sia-sia. Rasulullah pernah bersabda:
أتدرون من المفلس؟ قالوا: المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع. قال: المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة، ويأتي قد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا
Artinya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Mereka menjawab: Orang yang tidak punya uang dan barang. Rasul bersabda: Yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang di hari kiamat membawa salat, puasa, dan zakat, namun dia juga membawa (dosa) mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta ini, menumpahkan darah itu...” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa ibadah yang tidak dibarengi dengan akhlak sosial yang baik bisa berujung pada kehancuran.
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Ibadah dalam Islam sejatinya bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga sarana pendidikan sosial. Dari salat hingga haji, semua mengandung pelajaran untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama. Seorang Muslim yang taat beribadah seharusnya menjadi pribadi yang lembut hatinya, mudah menolong, peduli terhadap penderitaan orang lain, dan aktif menjaga harmoni sosial.
Sudah saatnya umat Islam memahami ibadah secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada aspek ritual, tetapi juga menumbuhkan semangat berbagi dan peduli. Ibadah yang tidak menumbuhkan kepedulian sosial adalah ibadah yang kering dan tidak membuahkan hasil. Mari kita jadikan setiap ibadah sebagai sarana membentuk pribadi yang rahmatan lil ‘alamin. Sebab, Islam sejati bukan hanya terlihat di atas sajadah, tapi juga dalam laku sosial yang membahagiakan sesama. (djl).