Hari Arafah dan Nilai Pengorbanan
Hari Arafah memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: "Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku katakan adalah: 'Lā ilāha illallāh, wahdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr (Tiada tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).'" (QS. Ash-Shaffat: 102)
Di hari ini, kita diajak bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga meneladani semangat pengorbanan Nabi Ibrahim. Setiap Muslim hendaknya merenungkan: sudah sejauh mana ia berkorban untuk agama? Apakah kita sudah ikhlas dalam ibadah? Apakah kita sudah mampu menyingkirkan ego, dunia, dan hawa nafsu demi kecintaan kepada Allah?
BACA JUGA:Inilah Doa-Doa Mustajab di Tanah Suci
Keutamaan Berpuasa di Hari Arafah
Bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, puasa di hari Arafah adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَه
Artinya: "Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya." (HR. Muslim)
Ini menunjukkan betapa besar ganjaran ibadah di hari tersebut, sehingga pengorbanan kita—meski sekecil menahan lapar dan haus—menjadi wujud nyata meneladani Nabi Ibrahim.
Dari penjelasan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail bukan sekadar sejarah, tetapi pelajaran hidup yang abadi. Di hari Arafah, setiap Muslim diajak merenungi kembali arti pengorbanan sejati. Apakah kita sudah meletakkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya? Apakah kita sudah siap mengorbankan ego, harta, dan ambisi dunia demi ketaatan kepada-Nya?
Hari Arafah bukan sekadar momen tahunan. Ia adalah panggilan jiwa untuk kembali kepada fitrah, meneguhkan keimanan, dan memperbarui komitmen pengabdian kepada Allah SWT.
Mari jadikan Hari Arafah sebagai momentum spiritual untuk memperdalam makna pengorbanan, ketaatan, dan keikhlasan. Jangan biarkan momen istimewa ini berlalu tanpa makna. Teladan Nabi Ibrahim harus hidup dalam setiap langkah kita sebagai Muslim.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang mampu meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan dikumpulkan bersamanya di surga kelak. (djl)