Ayat ini menyeru kaum beriman untuk memeriksa amal mereka. Dalam konteks awal Zulhijjah, saat Allah memberikan banyak keutamaan, maka sangat tepat untuk memulai bulan ini dengan muhasabah. Apakah selama ini kita sudah bersungguh-sungguh dalam beribadah? Apakah hati kita masih dipenuhi sifat sombong, riya’, atau hasad? Apakah kita sudah memaafkan sesama dan menjalin kembali tali silaturahmi yang retak?
BACA JUGA:Persiapan Spiritual Menjelang Zulhijjah
Momen Taubat dan Memperbaiki Diri
Bulan Zulhijjah mengandung spirit pengorbanan, sebagaimana Nabi Ibrahim AS yang diuji dengan perintah menyembelih anaknya, Ismail AS. Pengorbanan itu bukan hanya fisik, tapi juga mencerminkan keikhlasan dan ketaatan mutlak kepada Allah SWT. Dari sini, refleksi diri harus bermuara pada taubat dan perubahan diri yang lebih baik.
Nabi SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Tirmidzi yang mana berbunyi:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Artinya: "Setiap anak Adam pasti pernah berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi no. 2499, hasan)
Dengan kehadiran hari-hari penuh kemuliaan di awal Zulhijjah, kita disediakan peluang emas untuk bertaubat dan memperbanyak amal, seperti:
- Shalat sunnah
- Puasa Arafah bagi yang tidak berhaji
- Membaca Al-Qur'an
- Sedekah dan berbagi kepada yang membutuhkan
- Dzikir dan takbir
Meneladani Ketundukan Nabi Ibrahim AS
Ketika seorang muslim merefleksikan dirinya di awal Zulhijjah, sangat penting untuk mencontoh keteguhan dan kepasrahan Nabi Ibrahim AS. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji beliau:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: "Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: 'Tunduklah!' Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk kepada Tuhan semesta alam.'" (QS. Al-Baqarah: 131)
Ketundukan Ibrahim adalah cermin totalitas keimanan. Maka dalam muhasabah awal Zulhijjah, kita bertanya kepada diri: Apakah aku sudah pasrah kepada takdir Allah? Sudahkah aku tunduk terhadap perintah-Nya, walau terasa berat?
BACA JUGA:Menyambut Zulhijjah dengan Hati yang Bersih
Dari penjelasan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Awal bulan Zulhijjah adalah saat yang sangat tepat untuk memperbaiki arah hidup. Dalam momentum ini, Allah SWT membuka pintu pahala yang luas, pintu taubat yang lebar, dan pintu keberkahan yang melimpah. Refleksi diri bukan sekadar mengingat kesalahan, namun juga tekad untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebajikan. Keutamaan hari-hari ini tak boleh disia-siakan.
Mari kita manfaatkan awal Zulhijjah dengan penuh kesadaran iman. Jadikan momen ini sebagai titik balik kehidupan rohani kita. Perbanyak istighfar, kuatkan niat, luruskan jalan, dan dekatkan diri kepada Allah SWT dengan amal-amal terbaik. Semoga kita tergolong orang-orang yang dimuliakan di dunia dan akhirat karena menghargai momen-momen mulia ini. (djl)