Contoh Pengorbanan Para Nabi dan Sahabat
Keteladanan agung terlihat dari para Nabi dan sahabat Rasulullah. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam misalnya, rela meninggalkan tanah kelahirannya, bahkan bersedia menyembelih anak tercintanya demi menaati perintah Allah. Lihatlah bagaimana Allah membalas pengorbanannya dengan menjadikan beliau sebagai khalilullah (kekasih Allah) dan menjadikan keturunannya sebagai pembawa risalah.
Sahabat Nabi seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun mengorbankan seluruh hartanya di jalan Allah saat perang Tabuk. Ketika ditanya apa yang ia sisakan untuk keluarganya, ia menjawab: “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.” Ini adalah bentuk cinta dan tawakkal yang sangat luar biasa.
BACA JUGA:Meneladani Akhlak Muhammad Rasulullah Nabi SAW di Bulan-bulan Haram
Mengintrospeksi Diri: Apa yang Sudah Kita Korbankan?
Kita hidup di zaman yang penuh godaan dan kelalaian. Banyak yang rela meninggalkan shalat demi pekerjaan, rela membuka aurat demi tren, bahkan rela melakukan riba dan tipu daya demi harta. Padahal semua itu adalah kemaksiatan yang akan mengundang murka Allah. Jika kita benar-benar mencintai Allah, maka sudah seharusnya kita tinggalkan semua yang diharamkan oleh-Nya, sekecil apa pun itu.
Salah satu bentuk refleksi diri yang penting adalah merenungkan yang mana terdapat dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 24 yang mana berbunyi:
قُلْ إِن كَانَ آبَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ
Artinya: "Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."
(QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini menegaskan bahwa kecintaan kepada dunia tidak boleh mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kita jujur pada diri sendiri, maka kita harus mulai mengurangi ketergantungan pada dunia, dan lebih banyak mengarahkan hati kepada akhirat.
BACA JUGA:Keutamaan Memperbanyak Shalawat di Bulan Haram
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Refleksi diri atas apa yang sudah kita tinggalkan demi Allah adalah bentuk muhasabah yang sangat penting. Ia menjadi tolak ukur seberapa dalam iman kita, seberapa kuat cinta kita kepada Allah, dan seberapa besar keinginan kita untuk mendapatkan ridha-Nya. Meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan meragukan adalah tanda taqwa, dan taqwa adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Mari kita jadikan momen setelah Ramadhan, bulan Syawal, dan seluruh bulan-bulan lainnya sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Jangan hanya meninggalkan maksiat saat Ramadhan, lalu kembali melakukannya setelahnya. Ingatlah bahwa Allah tidak hanya disembah di bulan tertentu, tetapi setiap waktu. Maka, ayo kita bertanya kembali dengan jujur: “Apa yang telah aku tinggalkan demi Allah?” Jika belum banyak, maka mulailah hari ini. Karena setiap langkah kecil meninggalkan sesuatu demi Allah, pasti bernilai besar di sisi-Nya. (djl)