Penjelasan dan Relevansi di Masa Kini
Di tengah maraknya konflik sosial, ujaran kebencian, dan permusuhan di media sosial maupun kehidupan nyata, meneladani akhlak Nabi SAW di bulan-bulan haram adalah solusi yang relevan. Umat Islam diajarkan untuk lebih menahan diri, tidak mudah marah, dan menjauhi perbuatan yang melukai sesama.
Bulan haram adalah momentum untuk introspeksi, memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia. Jangan biarkan waktu-waktu mulia ini terlewat dengan dosa lisan, kebencian, atau tindakan zhalim. Sebaliknya, jadikan ia sarana untuk mempertebal iman dan memperluas kebaikan.
BACA JUGA:Inilah Amalan-amalan Sederhana Namun Bernilai Besar di Bulan Dzulqa’dah
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Meneladani akhlak Nabi SAW di bulan-bulan haram adalah wujud nyata cinta dan kepatuhan kita kepada ajaran Islam. Dengan menjauhi kezaliman, meningkatkan ibadah, mengedepankan kelembutan, dan memperbanyak amal saleh, kita tidak hanya menjaga kesucian waktu-waktu mulia ini, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebagaimana Rasulullah SAW menjadi rahmat bagi seluruh alam, demikian pula kita sebagai umatnya harus menjadi sumber rahmat, kedamaian, dan keteladanan, terlebih di bulan-bulan yang Allah muliakan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 31 yang mana berbunyi:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali 'Imran: 31)
Mari jadikan bulan-bulan haram sebagai titik balik dalam perjalanan hidup kita. Saatnya kembali pada akhlak kenabian yang penuh rahmat, cinta, dan kasih sayang. Inilah saat terbaik untuk memperkuat ukhuwah, memadamkan api permusuhan, dan menebar kebaikan. Semoga Allah membimbing kita semua untuk dapat meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW, khususnya di bulan-bulan haram, hingga kita digolongkan sebagai umatnya yang sejati. (djl)