“Bahaya Ujub dan Riya: Penyakit Hati yang Menghapus Amal, serta Cara Ampuh Menghindarinya”
Rabu 01-04-2026,18:00 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id - “Bahaya Ujub dan Riya: Penyakit Hati yang Menghapus Amal, serta Cara Ampuh Menghindarinya”--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, menjaga kebersihan hati merupakan perkara yang sangat penting. Hati adalah pusat segala amal; jika hati baik, maka baik pula seluruh perbuatan. Namun, ada penyakit hati yang sering kali tidak disadari keberadaannya, yaitu ujub (bangga diri) dan riya (pamer dalam beramal). Keduanya adalah penyakit yang sangat halus, namun dampaknya sangat besar, bahkan dapat menghapus pahala amal yang telah dilakukan dengan susah payah.
Di era modern seperti sekarang, di mana segala aktivitas mudah dipublikasikan melalui media sosial, ujub dan riya menjadi semakin sulit dihindari. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami hakikat keduanya serta cara menghindarinya agar amal tetap bernilai di sisi Allah SWT.
Pengertian Ujub dan Riya
1. Ujub (Bangga Diri)
Ujub adalah perasaan bangga terhadap diri sendiri atas amal atau kelebihan yang dimiliki, seolah-olah semua itu murni hasil usaha pribadi tanpa menyadari bahwa semuanya berasal dari Allah SWT.
2. Riya (Pamer Amal)
Riya adalah melakukan suatu amal dengan tujuan agar dilihat, dipuji, atau dihargai oleh manusia, bukan semata-mata karena Allah.
Dalil Al-Qur’an tentang Riya.
Allah SWT berfirman:
وَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4–6)
Ayat ini menunjukkan bahwa riya adalah perbuatan yang sangat berbahaya, bahkan dapat membuat seseorang yang rajin shalat justru mendapatkan ancaman kecelakaan (kerugian besar). Hal ini karena niatnya tidak lurus kepada Allah SWT.
Dalil Hadits tentang Riya
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)
Riya disebut sebagai syirik kecil karena dalam amal tersebut terdapat unsur menyekutukan Allah dengan makhluk dalam hal niat.
Dalil tentang Ujub
Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
Artinya: “Tiga perkara yang membinasakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri.” (HR. Thabrani)
Ujub termasuk perkara yang membinasakan karena membuat seseorang merasa cukup dengan dirinya dan enggan memperbaiki diri.
Bahaya Ujub dan Riya
1. Menghapus pahala amal
Amal yang dilakukan dengan riya tidak akan diterima oleh Allah SWT.
2. Mendatangkan murka Allah
Allah tidak menyukai hamba yang sombong dan pamer.
3. Menumbuhkan kesombongan
Ujub membuat seseorang meremehkan orang lain.
4. Menghancurkan keikhlasan
Keikhlasan adalah inti ibadah; tanpa itu, amal menjadi sia-sia.
Cara Menghindari Ujub dan Riya
1. Meluruskan Niat
Selalu niatkan setiap amal hanya karena Allah SWT.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas”(QS. Al-Bayyinah: 5)
2. Menyadari bahwa Semua dari Allah
Apa pun kelebihan yang kita miliki adalah karunia dari Allah, bukan semata usaha kita.
3. Menyembunyikan Amal
Jika memungkinkan, lakukan amal secara diam-diam agar terhindar dari riya.
4. Mengingat Bahwa Manusia Tidak Memberi Manfaat atau Mudharat
Pujian manusia tidak menambah derajat di sisi Allah jika niatnya salah.
5. Banyak Berdoa Meminta Keikhlasan
Doa yang diajarkan Rasulullah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)
6. Introspeksi Diri (Muhasabah)
Selalu mengevaluasi niat sebelum, saat, dan setelah beramal.
Contoh Riya di Era Modern
• Mengunggah ibadah dengan tujuan pujian
• Memamerkan sedekah
• Menunjukkan kebaikan agar dianggap saleh
Namun perlu diingat, tidak semua publikasi amal adalah riya. Jika tujuannya untuk memberi contoh kebaikan dan tetap menjaga niat, maka itu diperbolehkan.
Ujub dan riya adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat merusak bahkan menghapus amal kebaikan. Ujub membuat seseorang terperangkap dalam kesombongan, sementara riya menjadikan amal tidak bernilai di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, setiap Muslim harus senantiasa menjaga niat, memperbanyak muhasabah, serta memohon keikhlasan kepada Allah.
Sebagai manusia, kita tidak luput dari kekurangan dan godaan hati. Ujub dan riya bisa datang kapan saja, bahkan dalam ibadah yang paling kita banggakan. Maka, kunci utama untuk selamat adalah keikhlasan. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dari penyakit yang merusak amal dan menjadikan setiap perbuatan kita murni karena-Nya. (djl)
Sumber: