Ketika Amanah Hilang dari Pemimpin: Tanda Zaman dan Isyarat Kiamat Semakin Dekat

Ketika Amanah Hilang dari Pemimpin: Tanda Zaman dan Isyarat Kiamat Semakin Dekat

Radarseluma.disway.id - Ketika Amanah Hilang dari Pemimpin: Tanda Zaman dan Isyarat Kiamat Semakin Dekat--

Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Dalam kehidupan bermasyarakat, seorang pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan menyejahterakan rakyatnya. Amanah adalah nilai luhur yang menjadi fondasi utama dalam kepemimpinan Islam. Ketika amanah dijaga, maka keadilan dan kemakmuran akan tumbuh. Namun, ketika amanah diabaikan, kehancuran moral dan sosial menjadi keniscayaan.
 
Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya bahwa di antara tanda-tanda semakin dekatnya hari kiamat adalah munculnya pemimpin yang tidak amanah. Pemimpin seperti ini bukan hanya gagal menjalankan tanggung jawabnya, tetapi juga menjadi sebab utama runtuhnya moral dan keadilan dalam masyarakat. Fenomena ini kini terasa nyata di berbagai penjuru dunia, termasuk di negeri-negeri Muslim.
 
1. Amanah dalam Perspektif Al-Qur’an
 
Amanah dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Kata amanah berasal dari akar kata “أ م ن” (amina) yang bermakna kepercayaan dan keamanan. Dalam Al-Qur’an, amanah mencakup tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual yang harus dijaga oleh setiap individu, terutama para pemimpin.
 
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
 
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا ۖ وَإ حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
 
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisā’: 58)
 
Ayat ini menegaskan dua pilar utama kepemimpinan: menunaikan amanah dan menegakkan keadilan. Seorang pemimpin yang tidak mampu menjaga amanah berarti telah mengkhianati perintah Allah. Ketika kekuasaan diberikan bukan kepada orang yang layak, maka yang terjadi adalah penyalahgunaan wewenang, ketidakadilan, dan kerusakan sistem sosial.
 
2. Tanda Kiamat: Ketika Amanah Dicabut dari Hati Manusia
 
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras bahwa hilangnya amanah dari kalangan pemimpin merupakan salah satu tanda bahwa hari kiamat semakin dekat. Dalam sebuah hadits sahih disebutkan:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
 
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah datangnya hari kiamat. Ada yang bertanya: Bagaimana maksudnya amanah disia-siakan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari)
 
Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu penyebab kehancuran suatu bangsa adalah ketika jabatan, kekuasaan, dan tanggung jawab diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten dan tidak memiliki integritas. Ketika pemimpin hanya dipilih berdasarkan kepentingan pribadi, uang, atau kekuasaan, bukan karena kapasitas dan akhlaknya, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.
 
3. Realitas Kepemimpinan Zaman Sekarang
 
Dalam konteks kekinian, banyak masyarakat menyaksikan bagaimana sebagian pemimpin lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya daripada amanah yang diemban. Korupsi, penyalahgunaan jabatan, penindasan terhadap rakyat kecil, dan kebijakan yang tidak berpihak kepada keadilan menjadi pemandangan yang kian umum.
 
Fenomena ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadits lain:
 
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ.
 
Artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya, di mana pendusta dipercaya, orang jujur dianggap dusta, pengkhianat dipercaya, orang amanah dianggap pengkhianat, dan yang berbicara adalah orang-orang bodoh (ruwaibidhah).” (HR. Ibnu Majah)
 
Rasulullah SAW menggambarkan kondisi akhir zaman di mana nilai kebenaran dan kejujuran terbalik. Ketika yang tidak amanah diberi kepercayaan, maka kehancuran sosial tidak bisa dihindari. Masyarakat kehilangan teladan, dan keadilan tidak lagi menjadi landasan kebijakan publik.
 
 
4. Dampak Kehilangan Amanah bagi Umat dan Bangsa
 
Ketika pemimpin tidak amanah, dampaknya sangat luas:
Kehancuran moral bangsa masyarakat kehilangan figur panutan.
Tumbuhnya ketidakadilan sosial hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Rusaknya kepercayaan publik rakyat kehilangan kepercayaan terhadap institusi Negara.
 
Turunnya keberkahan dari Allah sebagaimana sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW:
 
إِذَا غَشَّ الْوُلَاةُ الرَّعِيَّةَ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْخَيْرَاتِ
 
Artinya: “Apabila para penguasa menipu rakyatnya, maka Allah akan mengharamkan mereka dari segala kebaikan.” (HR. Ahmad)
 
Hilangnya amanah bukan sekadar masalah moral, melainkan juga bencana spiritual yang mengundang murka Allah.
 
 
Dari uraian di atas, jelas bahwa munculnya pemimpin yang tidak amanah bukan hanya masalah politik atau sosial, tetapi juga merupakan tanda zaman sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Amanah adalah dasar keadilan, kejujuran, dan kemakmuran. Jika amanah hilang, maka hilanglah keberkahan dan rasa aman dalam kehidupan masyarakat.
 
Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah bentuk amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
 
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
 
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
 
Oleh karena itu, setiap pemimpin harus sadar bahwa kekuasaan bukanlah kehormatan, tetapi amanah berat yang kelak akan ditanya di hadapan Allah.
 
Munculnya pemimpin yang tidak amanah adalah cermin dari lemahnya iman dan hilangnya rasa takut kepada Allah. Umat Islam harus memperbaiki diri dengan menegakkan kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat. Ketika setiap individu kembali menjaga amanah dalam perannya masing-masing, maka keberkahan Allah akan kembali turun ke bumi.
 
Mari kita renungkan sabda Rasulullah SAW dan berdoa agar Allah SWT menganugerahkan kepada kita para pemimpin yang amanah, adil, dan takut kepada-Nya. Karena hanya dengan kepemimpinan yang amanah, umat akan bangkit dan terhindar dari kehancuran di dunia serta azab di akhirat. (djl)
 

Sumber:

Berita Terkait