Waktu Terasa Singkat, Hari Berlalu Seperti Jam: Tanda Kiamat Semakin Dekat
Radarseluma.disway.id - Waktu Terasa Singkat, Hari Berlalu Seperti Jam: Tanda Kiamat Semakin Dekat--
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Setiap detik yang berlalu membawa manusia semakin dekat kepada akhir kehidupan dan berakhirnya alam semesta. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang merasakan bahwa waktu berjalan begitu cepat. Hari-hari terasa pendek, bulan berganti dengan cepat, dan tahun pun berlalu tanpa terasa. Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah tanda sebagaimana telah disampaikan oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu tanda-tanda kecil datangnya Hari Kiamat.
Manusia modern hidup di zaman yang penuh dengan kesibukan dan hiruk pikuk dunia. Waktu yang semestinya digunakan untuk beribadah, merenung, dan memperbaiki diri, kini banyak tersita oleh urusan duniawi. Padahal, Allah SWT telah mengingatkan bahwa waktu adalah nikmat yang sangat berharga, dan akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda bahwa salah satu tanda semakin dekatnya Kiamat adalah ketika waktu terasa singkat — tahun terasa seperti bulan, bulan seperti pekan, pekan seperti hari, bahkan hari terasa seperti satu jam.
Fenomena ini mengandung pesan penting agar umat manusia kembali merenung dan memperbaiki arah kehidupannya. Sebab, waktu yang cepat berlalu bukan hanya tanda alamiah, tetapi juga peringatan dari Allah SWT agar manusia tidak terlena dalam urusan dunia.
Fenomena Singkatnya Waktu Menurut Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)
Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan waktu siang dan malam merupakan tanda kebesaran Allah. Waktu bukan sekadar hitungan jam dan hari, tetapi sarana untuk mengingat Allah, bersyukur, dan memperbaiki amal. Namun, ketika manusia lalai, waktu yang seharusnya menjadi ladang amal malah terasa cepat berlalu tanpa makna.
Allah SWT juga mengingatkan dalam ayat lain:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Surah Al-‘Ashr menjadi pengingat tegas bahwa waktu adalah ujian. Setiap detik yang hilang tanpa iman dan amal saleh adalah kerugian besar. Manusia yang tidak mampu memanfaatkan waktunya dengan baik akan menyesal ketika waktu tak bisa lagi kembali.
BACA JUGA:Banyaknya Masjid, Sedikit Jamaah: Tanda Lemahnya Iman di Akhir Zaman
Hadits tentang Waktu yang Terasa Cepat
Rasulullah SAW telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang fenomena ini dalam sebuah hadits sahih:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، فَتَكُونُ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَالسَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ"
Artinya:
“Tidak akan terjadi Kiamat hingga waktu terasa semakin cepat. Setahun seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam seperti kilatan api.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Hadits ini menggambarkan dengan sangat gamblang bagaimana manusia di akhir zaman akan merasakan percepatan waktu. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini bukan berarti waktu secara fisik berkurang, melainkan keberkahannya yang hilang. Aktivitas manusia semakin padat, namun waktu terasa sempit dan hasilnya tidak sebanding dengan usahanya.
Makna dan Tafsir Ulama tentang Singkatnya Waktu
Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan bahwa “berkurangnya waktu” bukan dalam arti harfiah, melainkan karena hilangnya keberkahan. Waktu seolah cepat berlalu karena hati manusia jauh dari zikir, ilmu, dan amal.
Syaikh Ibn Hajar Al-Asqalani juga menyatakan dalam Fathul Bari bahwa percepatan waktu di akhir zaman bisa disebabkan oleh banyak hal:
1. Hilangnya keberkahan waktu karena dosa dan maksiat.
2. Kesibukan dunia yang melalaikan manusia dari ibadah.
3. Teknologi dan kemajuan zaman yang membuat manusia sibuk namun kehilangan makna hidup.
Perkembangan teknologi di zaman modern membuat segala sesuatu berjalan cepat komunikasi, transportasi, bahkan urusan pekerjaan. Namun, di balik itu semua, manusia kehilangan ketenangan dan kebersamaan. Hari-hari berlalu tanpa disadari karena manusia lebih banyak mengejar dunia daripada akhirat.
Hilangnya Keberkahan Waktu di Akhir Zaman
Rasulullah SAW juga bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menegaskan bahwa waktu adalah amanah besar. Banyak orang menyia-nyiakan waktu sehat dan luangnya untuk hal sia-sia, padahal waktu tersebut akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika keberkahan waktu hilang, seseorang tidak lagi mampu mengatur kehidupannya dengan baik, amal berkurang, dan waktu berlalu tanpa arti.
Fenomena Modern: Cepatnya Waktu dan Kehidupan Instan
Di zaman modern ini, waktu terasa semakin cepat seiring dengan kehidupan yang serba instan. Orang makan cepat, bekerja cepat, bahkan beribadah pun dilakukan dengan tergesa-gesa. Sementara hati manusia semakin gersang dari ketenangan.
Perasaan bahwa waktu berlalu cepat juga dipengaruhi oleh hilangnya barakah (keberkahan). Dalam masyarakat terdahulu, meski aktivitas lebih berat dan sarana terbatas, mereka mampu beribadah dengan khusyuk, menjaga silaturahmi, dan memiliki waktu untuk keluarga. Kini, meski teknologi membantu segalanya menjadi mudah, manusia justru merasa kekurangan waktu.
Inilah salah satu bentuk istidraj (ujian dalam kenikmatan) dari Allah SWT. Allah membiarkan manusia sibuk dengan dunia hingga lupa mempersiapkan akhirat.
Pelajaran dan Renungan
Fenomena cepatnya waktu bukan sekadar gejala psikologis atau akibat teknologi, tetapi tanda-tanda kecil dari semakin dekatnya Hari Kiamat. Rasulullah SAW telah memperingatkan hal ini agar umat Islam tidak terlena.
Setiap Muslim seharusnya menyadari bahwa waktu adalah amanah yang sangat berharga. Hendaknya kita kembali mengatur waktu dengan menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Perbanyak amal saleh, dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperkuat silaturahmi agar keberkahan waktu kembali hadir dalam hidup.
Waktu yang terasa cepat adalah salah satu tanda nyata dari akhir zaman sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits sahih. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa dunia semakin mendekati penghujungnya. Ketika waktu kehilangan keberkahan, manusia akan kehilangan arah dan terjebak dalam kesibukan yang tak berujung.
Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan setiap detik yang tersisa dengan amal saleh. Gunakan waktu untuk mendekat kepada Allah, memperbaiki diri, dan menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat. Karena sejatinya, setiap hari yang berlalu adalah satu langkah lebih dekat menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.
Allah SWT telah mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh. Maka, sebelum waktu benar-benar habis, kembalilah kepada Allah. Jadikan setiap hari bermakna, bukan hanya sibuk dengan dunia, tetapi juga berorientasi pada akhirat.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Waktu memang terasa singkat, tetapi bagi orang beriman, setiap detik dapat menjadi ladang pahala. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dalam umur, waktu, dan amal kita, serta menjauhkan kita dari kelalaian yang membuat waktu berlalu tanpa manfaat. (djl)
Sumber: