Meneladani Spirit Tabligh Rasulullah di Tengah Arus Fitnah dan Disinformasi Zaman

Meneladani Spirit Tabligh Rasulullah di Tengah Arus Fitnah dan Disinformasi Zaman

Radarseluma.disway.id - Meneladani Spirit Tabligh Rasulullah di Tengah Arus Fitnah dan Disinformasi Zaman--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id-Di tengah dunia yang semakin cepat berputar dan semakin mudah tersebar informasi baik yang benar maupun yang salah umat Islam dihadapkan pada ujian besar berupa fitnah dan disinformasi. Dalam kondisi semacam ini, semangat tabligh atau menyampaikan kebenaran sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Spirit tabligh bukan hanya sebatas menyampaikan ajaran agama, melainkan juga menjadi penjaga kebenaran di tengah badai kebohongan. Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam hal ini. Dalam situasi terberat sekalipun, beliau tetap kokoh dalam menyampaikan kebenaran dengan akhlak yang luhur, sabar, dan penuh hikmah.

Makna Tabligh dalam Islam

Secara bahasa, tabligh berasal dari kata بَلَّغَ يُبَلِّغُ تَبْلِيغًا yang berarti menyampaikan. Dalam konteks dakwah Islam, tabligh bermakna menyampaikan risalah atau pesan Allah kepada manusia tanpa mengurangi atau menambahi.

Rasulullah SAW bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Artinya: “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari, no. 3461)

Hadis ini menegaskan bahwa setiap Muslim memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan ajaran Islam, sesuai kapasitas dan ilmunya. Apalagi di zaman fitnah, saat informasi berseliweran tanpa kendali, spirit tabligh menjadi benteng utama untuk meluruskan pemahaman umat.

BACA JUGA:Syuhada di Bulan Safar: Jejak Perjuangan dan Dakwah Para Pahlawan Iman

Spirit Tabligh Rasulullah di Tengah Fitnah

Zaman Rasulullah pun bukan tanpa fitnah. Beliau menghadapi fitnah keji, penolakan keras, pemboikotan, hingga ancaman pembunuhan. Namun, beliau tetap istiqamah dalam menyampaikan risalah Islam.

Salah satu contoh nyata adalah ketika terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj. Banyak orang Quraisy mengolok-olok dan menuduh Nabi sebagai pendusta. Namun, Rasulullah tetap tegar dan tidak mundur dari dakwahnya. Ini menunjukkan bahwa kebenaran harus tetap disampaikan walaupun menghadapi penolakan dan fitnah.

Firman Allah SWT:

فَصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan kebenaran secara terbuka, meskipun akan menghadapi risiko besar dari kaum musyrik. Ini adalah pelajaran besar bagi umat Islam hari ini agar tidak gentar dalam menyampaikan kebenaran meskipun di tengah fitnah.

Fitnah dan Disinformasi Zaman Sekarang

Fitnah di era digital bisa menyebar dalam hitungan detik. Dalam dunia maya, hoaks, ujaran kebencian, bahkan narasi keagamaan yang menyimpang dapat tersebar tanpa kontrol. Inilah tantangan tabligh hari ini. Spirit tabligh Rasulullah harus dibawa ke dunia digital untuk menyejukkan suasana dan meluruskan kekeliruan.

Rasulullah SAW bersabda:

سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يُحَدِّثُونَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ، لَا يُضِلُّونَّكُمْ وَلَا يَفْتِنُونَّكُمْ

Artinya: “Akan datang di akhir zaman para pendusta besar. Mereka menyampaikan kepada kalian apa yang belum pernah kalian dengar dan tidak pula didengar oleh bapak-bapak kalian. Maka, jauhilah mereka, agar mereka tidak menyesatkan kalian dan tidak membuat kalian jatuh ke dalam fitnah.” (HR. Muslim, no. 7)

Hadis ini menggambarkan bahaya fitnah informasi di akhir zaman. Maka, umat Islam wajib cerdas, kritis, dan tetap berpegang teguh pada kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah.

BACA JUGA:Mengokohkan Negeri dengan Akidah yang Murni: Pondasi Bangsa yang Kuat dan Bermartabat

Strategi Menyampaikan Tabligh di Tengah Fitnah

1. Berilmu Sebelum Berdakwah

Seorang yang menyampaikan kebenaran harus berlandaskan ilmu. Allah SWT berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

Artinya: “Katakanlah: Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah atas dasar ilmu yang nyata.” (QS. Yusuf: 108)

Dakwah tanpa ilmu hanya akan menambah kerusakan dan membuka ruang fitnah baru.

2. Dengan Hikmah dan Akhlak Mulia

Spirit tabligh Rasulullah selalu disampaikan dengan hikmah dan kelembutan.

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

3. Menggunakan Media secara Bijak

Media sosial bisa menjadi alat tabligh yang efektif, asalkan digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. Jangan ikut menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Sabda Nabi SAW:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa bila ia menceritakan setiap yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)

Spirit Tabligh sebagai Solusi Umat

Tabligh bukan hanya tugas para ustadz dan ulama. Setiap Muslim memiliki peran sesuai kapasitasnya: orang tua mendidik anaknya, guru mendidik muridnya, pemimpin menasihati rakyatnya, penulis menyebar gagasan yang mencerahkan.

Ketika fitnah melanda, masyarakat butuh suara yang menenangkan, bukan menambah kegaduhan. Spirit tabligh Rasulullah bisa menjadi oase di tengah kegersangan hati umat.

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Spirit tabligh Rasulullah SAW adalah warisan agung yang harus dihidupkan kembali, terutama di zaman penuh fitnah seperti saat ini. Tabligh bukan hanya soal menyampaikan ilmu, tetapi juga menjaga amanah kebenaran, memelihara akhlak, dan merawat ukhuwah.

Fitnah yang merajalela bukan alasan untuk bungkam, tetapi menjadi motivasi untuk menyampaikan yang haq secara bijak dan sabar. Selama niat ikhlas karena Allah, dan jalan yang ditempuh sesuai tuntunan syariat, maka Allah akan menolong perjuangan itu.

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Mari jadikan diri kita bagian dari cahaya yang menerangi di tengah gelapnya fitnah. Dengan mengikuti jejak Rasulullah dalam tabligh, kita tidak hanya menjaga diri dari kesesatan, tapi juga menjadi penyelamat bagi orang-orang di sekitar kita. Dalam era disinformasi, kebenaran yang disampaikan dengan ikhlas dan hikmah adalah jalan menuju keselamatan.

وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya: “Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213) (djl) 

Sumber:

Berita Terkait