Kisah Heroik Perang Ar-Raji’: Keteguhan Sahabat Nabi di Tengah Pengkhianatan Kejam
Radarseluma.disway.id - Kisah Heroik Perang Ar-Raji’: Keteguhan Sahabat Nabi di Tengah Pengkhianatan Kejam--
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Perjal
Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah kisah keteguhan akidah, pengkhianatan musuh, dan kebesaran jiwa para sahabat Nabi, yang hingga hari ini terus menjadi pelajaran penting bagi umat Islam.
Latar Belakang dan Kronologi Perang Ar-Raji’
Perang Ar-Raji’ terjadi pada tahun ke-4 Hijriyah, setelah Perang Uhud. Sejumlah utusan datang kepada Rasulullah SAW meminta agar beliau mengirimkan beberapa sahabat untuk mengajarkan Islam kepada mereka di daerah Najd. Mereka mengaku sebagai pemeluk Islam yang ingin belajar lebih dalam tentang ajaran agama.
Namun, niat mereka ternyata busuk dan penuh tipu daya. Mereka bekerja sama dengan kabilah Bani Lahyan, musuh yang pernah dikalahkan dalam Perang Uhud, untuk membalas dendam kepada kaum Muslimin. Rasulullah SAW pun mempercayai mereka dan mengirim sepuluh orang sahabat pilihan, yang dipimpin oleh Ashim bin Thabit radhiyallahu ‘anhu.
Sesampainya di daerah Ar-Raji’, para sahabat ini dikepung oleh pasukan besar dari Bani Lahyan. Meskipun dikepung, para sahabat tetap berjuang mati-matian. Sebagian gugur dalam perlawanan, termasuk Ashim bin Thabit. Tiga sahabat ditangkap hidup-hidup: Zaid bin Datsinah, Khubaib bin Adi, dan Abdullah bin Tariq.
BACA JUGA:Usia Malaikat Jibril Tak Seberapa Dibanding Nur Muhammad: Rahasia Cinta Allah Sebelum Segala Ciptaan
Pengkhianatan dan Keteguhan Iman Para Sahabat
Para sahabat yang tertawan tidak mendapatkan perlakuan layak sebagai tawanan perang. Mereka dibawa ke Mekkah dan dijual kepada musuh-musuh Islam. Di sinilah ujian paling berat dimulai.
1. Kisah Khubaib bin Adi
Khubaib dijatuhi hukuman mati oleh Quraisy. Sebelum dibunuh, ia diminta oleh orang-orang musyrik untuk mengutuk Nabi Muhammad Rasulullah SAW sebagai bentuk penghinaan terhadap Islam. Namun, ia menjawab tegas:
"Demi Allah, aku tidak suka jika aku berada dalam keadaan selamat bersama keluargaku, sedangkan Rasulullah ﷺ tertusuk duri."
Sebelum dieksekusi, Khubaib sempat meminta waktu untuk shalat dua rakaat. Setelah itu ia berkata:
اللَّهُمَّ احصِهم عددًا، واقتُلهم بددًا، ولا تُبقِ منهم أحدًا
Artinya: "Ya Allah, hitunglah mereka satu per satu, binasakan mereka dan jangan sisakan seorang pun dari mereka!" (Sirah Ibn Hisham)
Ia pun mati sebagai syahid, dalam keadaan memegang teguh imannya.
2. Kisah Zaid bin Datsinah
Zaid juga dihadapkan pada ujian berat. Abu Sufyan bertanya kepadanya sebelum eksekusi:
"Apakah engkau rela Muhammad berada di tempatmu sekarang ini dan engkau bebas bersama keluargamu?"
Zaid menjawab:
"Demi Allah, aku tidak rela Muhammad tertusuk duri pun, sedangkan aku bersama keluargaku."
Jawaban ini membuat Abu Sufyan takjub dan berkata:
"Aku tidak pernah melihat seseorang mencintai orang lain seperti cinta para sahabat Muhammad kepada Muhammad."
BACA JUGA:Membuka Pintu Hidayah di Awal Bulan Safar: Momentum Hijrah Menuju Cahaya Ilahi
Pelajaran dari Perang Ar-Raji’
Peristiwa ini sarat dengan pelajaran yang sangat relevan hingga kini:
1. Keteguhan Akidah Tak Bisa Dibeli
Para sahabat menolak untuk menjual iman mereka, walaupun ditawari keselamatan. Hal ini selaras dengan firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah..." (QS. Fussilat: 30)
Mereka menunjukkan apa arti sebenarnya dari istiqamah dan cinta kepada Rasulullah SAW.
2. Bahaya Pengkhianatan dan Fitnah
Peristiwa Ar-Raji’ adalah bukti bahwa kelengahan terhadap musuh bisa berujung petaka besar. Rasulullah SAW pun merasa sangat sedih dan marah karena para sahabat dikhianati.
وَإِذَا قَابَلْتُمْ فَإِذَا أَنتُمْ بِأُمَّةٍ تَغْدِرُ وَتَغْدِرُ
Artinya: "Jika kalian bertemu (musuh), waspadalah karena mereka adalah kaum yang gemar berkhianat dan mengingkari janji." (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Nilai Jihad dan Pengorbanan
Khubaib dan Zaid bukan hanya syuhada, tetapi simbol pengorbanan dan cinta sejati kepada Rasulullah SAW. Mereka meninggal dalam kondisi lapang dada dan penuh keikhlasan.
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Peristiwa Perang Ar-Raji’ adalah kisah nyata keteguhan iman yang menggetarkan hati. Di tengah pengkhianatan yang sangat keji, para sahabat Nabi menunjukkan bahwa iman, kecintaan kepada Rasulullah, dan keikhlasan dalam mati syahid adalah kemuliaan yang tak ternilai.
Meski dunia menawarkan keselamatan, para sahabat memilih akhirat. Meski diperlakukan kejam, mereka tetap memuliakan syahadat. Ini adalah teladan abadi bagi generasi muslim di setiap zaman, untuk tetap istiqamah, sabar, dan tawakal meski dalam keadaan terdesak.
Kisah para syuhada Ar-Raji’ menunjukkan bahwa agama ini ditegakkan dengan darah dan air mata, bukan sekadar kata-kata. Mereka bukan tokoh fiktif, tetapi manusia nyata yang rela kehilangan segalanya demi menjaga Islam.
Semoga kisah ini menyentuh hati kita untuk memperdalam iman, menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW, dan menjadi pribadi muslim yang siap berkorban untuk kebenaran. (djl)
Sumber: