Menjalin Kembali Kekuatan Ukhuwah Islamiyah di Era Modern

Menjalin Kembali Kekuatan Ukhuwah Islamiyah di Era Modern

Radarseluma.disway.id - Menjalin Kembali Kekuatan Ukhuwah Islamiyah di Era Modern--

Reporter: Juli Irawan  

Radarseluma.disway.id -Hijrah bukan hanya bermakna berpindah tempat secara fisik, melainkan juga perubahan total dalam sikap, keyakinan, dan cara hidup menuju yang lebih baik sesuai tuntunan Islam. Salah satu nilai fundamental dalam hijrah adalah memperkuat ukhuwah Islamiyah ikatan persaudaraan yang dibangun atas dasar iman dan takwa. Dalam konteks masyarakat modern yang individualistis dan sarat perpecahan, mempererat ukhuwah Islamiyah menjadi bagian penting dari proses hijrah spiritual dan sosial. Ukhuwah yang kuat akan menjadi pondasi umat Islam untuk bersatu, saling mendukung, dan bersama-sama menghadapi tantangan zaman.

Makna Ukhuwah Islamiyah dalam Perspektif Hijrah

Secara etimologis, ukhuwah berasal dari bahasa Arab ‘ukhuwah’ (الأخوَّة) yang berarti persaudaraan. Dalam Islam, ukhuwah dibagi menjadi tiga jenis:

1. Ukhuwah Islamiyah, yakni persaudaraan sesama Muslim.

2. Ukhuwah Wathaniyah, yaitu persaudaraan sebangsa dan setanah air.

3. Ukhuwah Basyariyah, persaudaraan antar sesama manusia.

Ukhuwah Islamiyah menjadi yang utama karena ia berlandaskan pada aqidah tauhid yang sama. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah dari Makkah ke Madinah, salah satu langkah strategis beliau adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang) dengan kaum Anshar (penduduk asli). Peristiwa ini bukan hanya contoh nyata ukhuwah, tetapi juga strategi membangun kekuatan umat.

Islam menekankan pentingnya ukhuwah melalui berbagai ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW.

???? "إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ"

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini secara tegas menyebut bahwa hubungan antar mukmin adalah persaudaraan. Ukhuwah bukan hanya ikatan sosial, tetapi juga perintah syariat. Allah menyandingkan ukhuwah dengan takwa dan kasih sayang, menunjukkan bahwa menjaga ukhuwah adalah bagian dari ketaatan.

"الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا"

Artinya: "Orang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan, yang satu menguatkan yang lainnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menggambarkan ukhuwah sebagai bangunan kokoh yang saling menopang. Tidak ada bagian yang lemah jika semua terhubung dengan erat.

"لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه"

Artinya: "Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menekankan pentingnya empati dan kasih sayang dalam ukhuwah. Tanpa itu, keimanan kita belum sempurna.

BACA JUGA:Menjadi Pemuda Hijrah di Era Milenial: Meraih Cahaya di Tengah Gelapnya Godaan Zaman

Hijrah: Menguatkan Ukhuwah dalam Kehidupan Nyata

Perjalanan hijrah mengajarkan umat Islam bahwa transformasi diri juga harus disertai dengan transformasi sosial. Ketika seseorang berhijrah, ia tidak lagi mementingkan kepentingan pribadi semata, tetapi juga mulai peduli terhadap kondisi umat. Dalam konteks ukhuwah, ini berarti:

1. Menghilangkan sikap egois dan individualistik.

Hijrah mengajarkan kita untuk saling berbagi, tolong-menolong, dan tidak hidup hanya untuk diri sendiri.

2. Mempererat hubungan antar sesama Muslim.

Dalam dunia digital saat ini, ukhuwah bisa diwujudkan melalui dukungan moral di media sosial, menghindari ghibah, dan menyebarkan kebaikan.

3. Menjaga lisan dan perilaku.

Ukhuwah sering rusak karena ucapan atau tindakan yang menyakiti. Hijrah mengajarkan kita untuk menjaga akhlak dan etika dalam interaksi.

4. Aktif dalam kegiatan sosial keumatan.

Bergabung dalam kegiatan dakwah, pengajian, atau kerja bakti adalah wujud ukhuwah yang nyata.

Pelajaran dari Kaum Muhajirin dan Anshar

Peristiwa hijrah Nabi bukan hanya perubahan lokasi, melainkan perubahan tatanan masyarakat. Kaum Anshar rela berbagi rumah, harta, bahkan keluarga demi ukhuwah. Sementara kaum Muhajirin memulai hidup dari nol tanpa keluhan. Inilah standar ukhuwah yang tinggi yang perlu dijadikan teladan.

Allah SWT memuji mereka dalam Al-Qur'an:

"وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ"

Artinya: "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." (QS. Al-Hasyr: 9)

Ayat ini menunjukkan bagaimana ukhuwah dilandasi oleh keikhlasan dan pengorbanan, bukan kepentingan duniawi.

BACA JUGA:Hijrah Menuju Keseimbangan Dunia dan Akhirat: Menjadi Muslim Seimbang dan Visioner

Tantangan Ukhuwah di Zaman Kini

Di era digital dan globalisasi ini, ukhuwah sering terkikis oleh sekat-sekat sosial, politik, ekonomi, bahkan mazhab dan kelompok dakwah. Konflik internal umat Islam seringkali menjadi berita utama. Untuk itu, hijrah juga harus dimaknai sebagai upaya menyatukan kembali umat.

Langkah-langkah menguatkan ukhuwah hari ini antara lain:

• Mengedepankan adab dalam berdiskusi, bukan saling menjatuhkan.

• Fokus pada persamaan aqidah dan tujuan, bukan perbedaan furu’iyah.

• Membangun komunitas yang mengedepankan kolaborasi daripada kompetisi.

• Memperkuat pendidikan Islam yang menanamkan nilai ukhuwah sejak dini.

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Hijrah bukan hanya transformasi pribadi tetapi juga sosial. Ukhuwah Islamiyah adalah salah satu elemen penting dalam membangun kekuatan umat Islam. Melalui ukhuwah, umat Islam akan menjadi satu tubuh yang kuat dan tak mudah digoyahkan. Kita harus terus meneladani ukhuwah kaum Muhajirin dan Anshar, serta menjaga semangat hijrah dengan mempererat tali persaudaraan sesama Muslim.

Dalam masyarakat yang semakin terpecah, saatnya kita menjadikan hijrah sebagai momentum menyatukan kembali umat Islam dengan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Marilah kita mulai dari diri sendiri, lingkungan terdekat, dan kemudian menyebarkan semangat persaudaraan ini ke seluruh penjuru negeri. Dengan ukhuwah, umat Islam akan menjadi kuat. Sebagaimana sabda Nabi:

"المسلم أخو المسلم، لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره"

Artinya: "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya (dalam kesulitan), dan tidak meremehkannya." (HR. Muslim)

Semoga kita semua menjadi bagian dari umat yang bersatu dalam iman dan cinta, serta menjadi pelopor ukhuwah di tengah masyarakat yang haus akan kedamaian dan persaudaraan. (djl) 

Sumber:

Berita Terkait