Meneladani Keteladanan Rasulullah: Kesungguhan Beribadah di Hari Asyura
Radarseluma.disway.id - Meneladani Keteladanan Rasulullah: Kesungguhan Beribadah di Hari Asyura--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id – Bulan Muharam memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam, terutama pada tanggal 10 Muharam yang dikenal sebagai Hari Asyura. Hari ini bukan sekadar momen sejarah, tetapi juga waktu yang sangat dianjurkan untuk meningkatkan kesungguhan ibadah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Kesungguhan beliau dalam menghidupkan Hari Asyura menjadi teladan abadi bagi umat Islam, bukan hanya untuk berpuasa, tetapi juga meneguhkan keimanan dan meningkatkan kepedulian sosial.
Mukadimah: Asyura dalam Sejarah dan Kehidupan Islam
Asyura berasal dari kata “'asyara” (عشر) yang berarti sepuluh, merujuk pada tanggal 10 Muharam. Hari ini memiliki keutamaan sejak zaman Nabi Musa عليه السلام karena Allah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Fir’aun pada hari tersebut. Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada Hari Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa dan kaumnya. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat:
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَإِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: “Berpuasalah kalian pada hari Asyura, karena aku berharap kepada Allah semoga puasa itu dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, no. 1162)
Ini menunjukkan kesungguhan Rasulullah SAW dalam meneladani para nabi sebelumnya, sekaligus menegaskan bahwa Hari Asyura bukan sekadar tradisi, melainkan amalan yang memiliki keutamaan besar.
BACA JUGA:Menyongsong Hari Asyura: Menyemai Keimanan, Menggapai Ampunan Allah
Dalil Al-Qur’an: Keutamaan Bulan Haram
Allah SWT berfirman dalam surah At-Taubah ayat 36:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Bulan Muharam termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah, sehingga segala amal baik dilipatgandakan pahalanya, dan perbuatan dosa lebih besar risikonya. Ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk lebih bersungguh-sungguh beribadah, terutama pada Hari Asyura.
Kesungguhan Rasulullah SAW di Hari Asyura
Rasulullah SAW mencontohkan kesungguhan dalam menghidupkan Hari Asyura melalui beberapa amalan, di antaranya:
1. Puasa Asyura
Rasulullah SAW sangat menganjurkan puasa pada 10 Muharam, bahkan beliau berniat di tahun berikutnya untuk menambahkan puasa sehari sebelumnya (Tasua, 9 Muharam) agar berbeda dengan puasa kaum Yahudi, sebagaimana sabdanya:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
Artinya: “Jika aku masih hidup hingga tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, no. 1134)
2. Mengajak Keluarga
Rasulullah SAW memerintahkan keluarganya untuk juga berpuasa Asyura. Dalam riwayat lain disebutkan:
وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ وَأُمِرَ بِصِيَامِهِ أَهْلُهُ
Artinya: “Beliau memerintahkan untuk berpuasa Asyura, dan memerintahkan keluarganya juga untuk berpuasa.” (HR. Al-Bukhari, no. 2003)
3. Memperbanyak Amal Baik
Beberapa ulama menambahkan anjuran memberi sedekah, menyenangkan keluarga, dan mempererat silaturahmi pada Hari Asyura.
Mengikuti keteladanan Rasulullah SAW di Hari Asyura bukan hanya soal ritual puasa, melainkan juga memperbarui komitmen ketaatan kepada Allah SWT. Ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri, menghapus dosa-dosa setahun lalu, serta memperkuat kepekaan sosial dengan berbagi kepada sesama.
Sebagaimana ditegaskan dalam hadits riwayat Muslim di atas, puasa Asyura adalah salah satu sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil setahun ke belakang. Hal ini menjadi rahmat besar bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari ridha Allah. Namun, dosa besar tetap menuntut taubat yang sungguh-sungguh.
BACA JUGA:Menyambut Hari Asyura: Bersihkan Hati, Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Hari Asyura adalah hari penuh keutamaan yang seharusnya dimanfaatkan umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Kesungguhan Rasulullah SAW dalam menghidupkan Asyura menjadi teladan nyata yang selayaknya diikuti. Tidak hanya dengan puasa, tetapi juga memperbanyak amal saleh, mempererat silaturahmi, dan memperhatikan nasib kaum dhuafa.
Sebagai umat Rasulullah SAW, marilah kita meneladani beliau dengan penuh kesungguhan, menjadikan Hari Asyura momentum muhasabah diri, memperbaiki amal, dan menata niat untuk hidup lebih taat. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan keistiqamahan untuk meneladani Rasulullah SAW di Hari Asyura dan seterusnya.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kita kesempatan untuk selalu meneladani Rasulullah SAW, terutama di hari-hari yang dimuliakan seperti Asyura. Jadikan Hari Asyura sebagai sarana untuk memperkuat iman, meningkatkan amal saleh, dan menebarkan kasih sayang kepada sesama. (djl).
Sejarah dan Keutamaan Hari Asyura
Puasa Asyura sebagai Penghapus Dosa
#KeutamaanBerpuasaHariAsyura
#
#
#AmalanUtamaDiBulanMuharam
#PuasaAsyuraHapusDosaSetahun
#
Sumber: