Menyongsong Hari Asyura: Menyemai Keimanan, Menggapai Ampunan Allah

Menyongsong Hari Asyura: Menyemai Keimanan, Menggapai Ampunan Allah

Radarseluma.disway.id - Menyongsong Hari Asyura: Menyemai Keimanan, Menggapai Ampunan Allah--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id – Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram memiliki keutamaan istimewa dalam Islam. Bukan hanya menjadi momentum

 historis bagi umat Islam, tetapi juga kesempatan meneguhkan keimanan, memperbanyak amal kebaikan, dan meraih ampunan Allah SWT. Hari Asyura menandai berbagai peristiwa besar, seperti diselamatkannya Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun, serta berbagai mukjizat lainnya yang menjadi pelajaran bagi umat Islam sepanjang zaman.

Mukadimah: Muharam dan Keistimewaan Asyura

Bulan Muharam termasuk dalam al-asyhur al-hurum (empat bulan haram) yang dimuliakan Allah. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Dari keempat bulan haram, Muharam memiliki keistimewaan khusus. Nabi SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharam.” (HR. Muslim no. 1163)

Ini menunjukkan betapa besar nilai Muharam, dan puncaknya terletak pada hari ke-10, yaitu Asyura.

Sejarah dan Makna Hari Asyura

Hari Asyura memiliki catatan sejarah penting yang diwariskan para nabi. Dalam riwayat disebutkan ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada 10 Muharam. Nabi bertanya, dan mereka menjawab bahwa itu hari Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari Fir’aun, sehingga mereka berpuasa sebagai ungkapan syukur. Maka Rasulullah bersabda:

نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Artinya: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa. (HR. Bukhari no. 2004, Muslim no. 1130)

Ini menunjukkan keistimewaan Asyura bukan hanya tradisi, tetapi memiliki dasar syar’i yang kuat. Melalui Asyura, umat Islam diajak meneladani kesabaran Nabi Musa, sekaligus memperkuat keimanan akan kekuasaan Allah yang Maha Penolong.

BACA JUGA:Menyambut Hari Asyura: Bersihkan Hati, Tebar Kebaikan, Raih Keberkahan

Keutamaan Puasa Asyura

Salah satu amalan utama di Hari Asyura adalah puasa. Dalam hadits shahih disebutkan:

سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: “Ketika ditanya tentang puasa Asyura, Rasulullah bersabda: Puasa itu menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Betapa besar rahmat Allah yang memberi kesempatan kepada hamba-Nya membersihkan dosa-dosa setahun silam hanya dengan satu hari berpuasa.

Cara Menyambut Asyura dengan Keimanan Penuh

1. Berpuasa

Utamakan puasa pada 9 (Tasu’a) dan 10 Muharam (Asyura) sebagai bentuk ittiba’ kepada sunnah Rasulullah.

2. Memperbanyak Dzikir dan Doa

Hari Asyura adalah momentum mendekatkan diri pada Allah dengan doa, memohon ampunan, dan bersyukur atas nikmat iman.

3. Bersedekah dan Berbuat Baik:

Mengikuti ajaran para ulama salaf yang menekankan memperbanyak sedekah di Hari Asyura.

4. Menghindari Tahayul dan Amalan Bid’ah

Tetap mengamalkan yang sesuai dalil, tidak menambah-nambah ritual yang tidak berdasar syariat.

Hikmah dan Pelajaran dari Asyura

Hari Asyura mengajarkan bahwa Allah selalu bersama orang yang sabar dan bertawakal. Kisah Nabi Musa yang dikejar Fir’aun hingga terbelahnya Laut Merah menjadi bukti konkret kuasa Allah yang menyelamatkan hamba-Nya. Ini mengajarkan kita untuk tidak putus asa meski dalam kesulitan, serta selalu yakin pada pertolongan Allah.

Firman Allah SWT menegaskan:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

BACA JUGA:Hijrah Umat Islam: Meneladani Semangat Perubahan dari Masa Nabi hingga Era Modern

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Hari Asyura bukan hanya hari biasa dalam kalender hijriah, melainkan momentum emas bagi umat Islam meneguhkan iman, memperbanyak amal, dan memperbaharui komitmen dalam ketaatan. Puasa Asyura menjadi salah satu amalan ringan namun pahalanya besar, karena menghapus dosa setahun yang lalu.

Menyongsong Hari Asyura hendaknya disambut dengan hati yang ikhlas, niat yang lurus, dan amal shalih yang tulus. Semoga kita termasuk hamba yang memperoleh ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah, serta menjadi pribadi yang lebih sabar dan bertawakal dalam menghadapi ujian hidup.

“Mari kita songsong Hari Asyura dengan keimanan penuh, meneladani Nabi Musa dan Rasulullah SAW, agar kita tergolong orang-orang yang dicintai dan dimuliakan Allah.” (djl) 

Sumber:

Berita Terkait