Jangan Asal Posting! Ini Etika Bermedia Sosial Di Era Digital Menurut Syari'at Islam

Jangan Asal Posting! Ini Etika Bermedia Sosial Di Era Digital Menurut Syari'at Islam

Radarseluma.disway.id - Jangan Asal Posting! Ini Etika Bermedia Sosial Di Era Digital Menurut Syari'at Islam--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Di era digital yang semakin canggih ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setiap orang kini dapat menyampaikan pendapat, berbagi informasi, bahkan berinteraksi tanpa batas waktu dan ruang. Namun, kebebasan ini sering kali disalahgunakan oleh sebagian orang untuk menyebar kebencian, hoaks, fitnah, dan perilaku yang tidak mencerminkan akhlak seorang Muslim. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami dan menerapkan etika bermedia sosial sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur segala aspek kehidupan, termasuk bagaimana seorang Muslim harus bersikap dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media seperti media sosial. Etika dalam bermedia sosial bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral kepada Allah dan sesama manusia.

Etika Bermedia Sosial dalam Perspektif Islam

1. Menjaga Lisan (Tulisan) dan Ucapan

Dalam media sosial, ucapan kita beralih menjadi tulisan. Maka, prinsip menjaga lisan juga berlaku dalam menjaga tulisan. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan agar tidak menyakiti, memfitnah, atau menyebarkan keburukan.

Dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 70 Allah SWT berfirman 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap Muslim hendaknya menjaga ucapannya termasuk dalam bentuk tulisan di media sosial agar senantiasa benar, jujur, dan tidak menyesatkan.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa seorang Muslim hendaknya menahan diri dari menyebar hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan merusak.

2. Menyaring Informasi Sebelum Menyebarkannya

Salah satu kebiasaan buruk di media sosial adalah menyebarkan informasi tanpa verifikasi. Islam sangat menekankan pentingnya tabayyun atau klarifikasi sebelum menyebarkan suatu berita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)

Dalam konteks media sosial, ayat ini sangat relevan. Jangan asal membagikan berita hoaks, apalagi jika itu menyangkut aib atau kehormatan orang lain.

Sumber:

Berita Terkait