Inilah Makna Filosofis di Balik Ibadah Kurban, Berikut Penjelasannya
Radarseluma.disway.id - Inilah Makna Filosofis di Balik Ibadah Kurban, Berikut Penjelasannya--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Ibadah kurban merupakan salah satu syiar Islam yang memiliki akar sejarah yang sangat dalam, berawal dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim 'alaihis salam terhadap putranya, Ismail 'alaihis salam. Dalam pelaksanaan kurban setiap Idul Adha, umat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan ternak tertentu sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Namun, ibadah ini bukan hanya tentang penyembelihan hewan semata, tetapi sarat dengan nilai-nilai filosofis, spiritual, dan sosial yang mendalam. Ibadah kurban mengandung pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan, hingga kepedulian terhadap sesama.
Makna Filosofis Ibadah Kurban
1. Tanda Kepatuhan dan Ketaatan kepada Allah
Ibadah kurban berakar dari peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian, ketika Nabi Ibrahim menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Perintah ini merupakan ujian ketaatan yang sangat berat, namun Nabi Ibrahim dan Ismail sama-sama menunjukkan kepatuhan total.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat As-Saffat: 103–105 yang mana berbunyi
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ، وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), Kami panggillah dia: 'Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu'. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat: 103–105)
Ayat ini mengandung makna keteladanan ketaatan mutlak kepada Allah. Kurban mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus di atas segalanya, bahkan melebihi cinta kepada anak sekalipun.
2. Bentuk Tazkiyah (Penyucian Diri) dan Keikhlasan
Ibadah kurban bukan hanya tindakan fisik menyembelih hewan, tetapi merupakan ekspresi penyucian jiwa dan keikhlasan dalam beribadah. Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukan daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan.
Firman Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hajj ayat 37 yang mana berbunyi:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu...” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menggarisbawahi makna filosofis ibadah kurban bahwa inti dari ibadah adalah kesadaran spiritual dan keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah.
BACA JUGA:Inilah Keutamaan Puasa Hari Arafah, Ayo Kita Amalkan Untuk Menambah Ketaqwaan Kepada Allah SWT
3. Menumbuhkan Empati Sosial dan Kepedulian
Kurban juga mengandung nilai sosial yang sangat luhur. Pembagian daging kurban kepada fakir miskin merupakan wujud solidaritas dan pemerataan rezeki dalam masyarakat. Hal ini mengajarkan kepada umat Islam untuk tidak hidup egois, tetapi turut merasakan penderitaan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang mana berbunyi:
فَكُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا
Artinya: “Makanlah sebagian darinya, berikanlah sebagian kepada orang lain, dan simpanlah sebagian lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa kurban tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk diberikan kepada orang lain sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian sosial.
4. Meneladani Pengorbanan dan Keberanian
Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail adalah lambang pengorbanan dan keberanian dalam menjalankan perintah Allah. Dalam kehidupan modern, umat Islam diajak untuk merefleksikan kurban sebagai simbol kesediaan mengorbankan hawa nafsu, keinginan pribadi, serta ego demi kebaikan yang lebih besar.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesungguhan dan pengorbanan dalam menaati Allah akan mendatangkan petunjuk dan pertolongan dari-Nya.
5. Sarana Menghidupkan Tauhid dan Mengikis Syirik
Kurban juga menjadi simbol penguatan tauhid (keesaan Allah). Dalam praktiknya, penyembelihan harus dilakukan atas nama Allah dan tidak boleh ditujukan untuk selain-Nya. Ini merupakan pendidikan tauhid praktis bagi umat Islam.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Muslim yang mana berbunyi:
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
Artinya: “Allah melaknat orang yang menyembelih (hewan) bukan karena Allah.” (HR. Muslim)
Kurban adalah pengingat bahwa segala bentuk ibadah harus semata-mata karena Allah. Penyembelihan atas nama selain Allah adalah bentuk syirik yang sangat berbahaya.
BACA JUGA:Inilah Makna Hari Tarwiyah dalam Sejarah Islam
Dari penjelasan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Ibadah kurban bukanlah sekadar ritual tahunan yang dilakukan karena kebiasaan, melainkan ibadah sarat makna dan pelajaran hidup. Ia mengandung nilai spiritual berupa keikhlasan, ketundukan, dan tauhid; nilai sosial berupa kepedulian dan empati; serta nilai moral berupa pengorbanan dan pengendalian diri. Melalui ibadah kurban, kita belajar bahwa dalam kehidupan ini, kita harus rela mengorbankan hal-hal duniawi demi mencapai ridha Ilahi.
Ibadah kurban adalah simbol totalitas pengabdian kepada Allah, yang merangkum berbagai dimensi kehidupan. Ia adalah pelajaran nyata bahwa cinta kepada Allah harus lebih tinggi dari cinta kepada dunia. Dalam setiap tetes darah hewan kurban yang mengalir, ada semangat pengorbanan, ketakwaan, dan cinta yang mendalam kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, mari kita jalani ibadah kurban dengan penuh pemahaman, keikhlasan, dan kesungguhan, agar kita tidak hanya mendapatkan pahala lahiriah, tetapi juga keberkahan spiritual dan sosial yang luas. (djl)
Sumber: