Keagungan Aesan Gede Warisan Busana Adat Palembang Yang Penuh Filosofi
Radarseluma.disway.id - Keagungan Aesan Gede Warisan Busana Adat Palembang Yang Penuh Filosofi --
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Pakaian adat Aesan Gede merupakan salah satu warisan budaya paling megah dari Kota Palembang, Sumatera Selatan. Bukan sekadar busana, Aesan Gede adalah simbol status, estetika, dan filosofi masyarakat Palembang yang diwariskan turun-temurun dari masa Kesultanan Palembang hingga era modern. Setiap lipatan kain, hiasan emas, dan susunan aksesorisnya mengandung makna sosial, religius, dan estetis yang dalam menjadikannya lebih dari sekadar pakaian perayaan: ia adalah identitas kolektif yang mengikat komunitas dalam memori sejarah dan kebanggaan budaya.
Sejarah dan Asal-usul
Asal-usul Aesan Gede berkaitan erat dengan sejarah Kesultanan Palembang dan pengaruh budaya Melayu yang memadukan unsur lokal, Islam, dan pengaruh perdagangan internasional (Arab, India, Tionghoa). Kata “Aesan” berasal dari bahasa Melayu yang berarti pakaian, sedangkan “Gede” berarti besar atau agung secara harfiah menandakan pakaian kebesaran atau pakaian agung. Pada masa lampau, Aesan Gede dipakai oleh keluarga keraton, bangsawan, dan masyarakat berstatus tinggi pada upacara resmi kerajaan, sebagai tanda wibawa dan kehormatan. Seiring waktu, penggunaannya meluas ke masyarakat umum pada acara-acara adat tertentu, tetapi tata cara pemakaian dan ragam hias tradisional tetap dijaga untuk menjaga keaslian warisan itu.
Deskripsi Lengkap Pakaian (Pria & Wanita)
Aesan Gede terdiri dari beberapa elemen utama yang memadukan kain songket, sulaman emas/perak, perhiasan, dan aksesori kepala. Berikut rincian komponennya:
Untuk Wanita (Aesan Gede Lamo / Aesan Gede Ado):
• Kain Songket: Songket Palembang berpola halus dan ditenun dengan benang emas atau perak, menjadi elemen pusat. Biasanya berwarna merah marun, emas, hitam, atau hijau tua.
• Baju Atasan: Model kebaya atau kemeja panjang yang disusun rapi, kadang diberi lapisan yang membentuk siluet anggun dan leher tertutup sebagai simbol kesopanan.
• Lapang (Selendang): Selendang songket disampirkan di bahu atau dipakai menyilang, sering dihias rumbai atau kain lipit.
• Mahkota/Tutup Kepala: Wanita mengenakan mahkota kecil atau hiasan kepala berornamen bunga emas (siger kecil) atau susunan hiasan manik-manik.
• Perhiasan: Kalung panjang, anting, gelang, dan bros besar semua biasanya bermotif tradisional dan sering berlapis emas imitasi atau nyata tergantung status.
• Hiasan Tangan: Kadang ada kain tambahan yang melilit sebagai ornamen, memunculkan tampilan elegan saat bergerak.
Untuk Pria (Aesan Gede Pangeran / Aesan Gede Laki-laki):
• Tanjak atau Songkok Tradisional: Kepala ditutup tanjak songket atau kopiah khusus yang menonjolkan wibawa.
• Baju Atasan: Baju pangsi atau jas tradisional yang dipadukan dengan kain songket sebagai samping atau sarung.
Sumber: