Mengambil Hikmah dari Kejadian di Masa Lalu untuk Perbaikan Diri

Mengambil Hikmah dari Kejadian di Masa Lalu untuk Perbaikan Diri

Radarseluma.disway.id - Mengambil Hikmah dari Kejadian di Masa Lalu untuk Perbaikan Diri--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Setiap manusia pasti memiliki masa lalu. Sebagian mungkin dipenuhi kebahagiaan dan keberhasilan, namun tidak sedikit pula yang menyimpan penyesalan, luka, dan kesalahan. Dalam perjalanan hidup, masa lalu sejatinya bukan untuk dilupakan, apalagi ditangisi tanpa henti. Islam mengajarkan bahwa masa lalu, baik manis maupun pahit, harus menjadi pelajaran berharga untuk masa kini dan masa depan. Mengambil hikmah dari kejadian di masa lalu adalah bagian dari proses introspeksi diri (muhasabah) yang sangat dianjurkan dalam Islam demi menuju perbaikan dan kebahagiaan yang hakiki.

Menengok Masa Lalu dalam Islam

Masa lalu bukan untuk disesali tanpa arah, melainkan sebagai cermin untuk memperbaiki diri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18 yang mana berbunyi: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menegaskan pentingnya setiap Muslim untuk mengintrospeksi apa yang telah dilakukan di masa lalu sebagai bekal untuk akhirat. Tidak hanya itu, ayat ini juga menyiratkan bahwa masa lalu adalah pengingat agar manusia tidak mengulangi kesalahan dan memperbaiki amal di masa depan.

BACA JUGA:Berbakti kepada Keluarga: Merawat Ikatan yang Diberkahi

Belajar dari Kesalahan dan Tidak Berputus Asa

Setiap manusia tidak luput dari salah dan dosa. Namun Islam memberi harapan besar kepada siapa saja yang ingin memperbaiki diri. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Tirmidzi yang mana berbunyi: 

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Artinya: "Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi no. 2499)

Hadits ini menjadi pegangan bagi setiap Muslim untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah meskipun pernah berbuat kesalahan. Bahkan, dalam Islam, taubat yang tulus dari seseorang bisa mengubah keburukan menjadi kebaikan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Furqon ayat 70 yang mana berbunyi: 

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: "Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Al-Furqan: 70)

Penyesalan masa lalu hendaknya menjadi motivasi untuk memperbaiki amal di masa kini dan masa depan. Bukan sebaliknya, menjadi alasan untuk terus terpuruk dalam dosa dan kesedihan.

BACA JUGA:Pentingnya Memaafkan Diri Sendiri di Bulan Dzulqa’dah yang Suci Ini

Contoh Teladan dari Para Nabi

Al-Qur’an memuat banyak kisah dari masa lalu, terutama kisah para nabi dan umat-umat terdahulu. Tujuannya adalah agar kita mengambil pelajaran darinya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Yusuf ayat 111 yang mana berbunyi: 

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: "Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS. Yusuf: 111)

Misalnya, kisah Nabi Yunus AS yang sempat meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, kemudian ditelan oleh ikan besar. Dalam kesendiriannya di dalam perut ikan, beliau menyesali tindakannya dan memohon ampun kepada Allah. Allah pun menerima taubatnya dan menyelamatkannya.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 87 Allah SWT berfirman yang mana berbunyi: 

فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: "Lalu ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.'" (QS. Al-Anbiya: 87)

Kisah ini menunjukkan bahwa dalam keterpurukan akibat kesalahan masa lalu, kita harus kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati dan pengakuan dosa.

Langkah Menuju Perbaikan Diri

1. Muhasabah  

Lakukan evaluasi diri secara berkala, seperti yang dianjurkan Umar bin Khattab RA: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

2. Taubat Nasuha 

Taubat yang sungguh-sungguh dengan meninggalkan dosa, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya.

3. Mengganti keburukan dengan kebaikan 

Perbanyak amal shalih seperti sedekah, dzikir, menuntut ilmu, dan amal-amal lainnya.

4. Berkumpul dengan orang saleh 

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perubahan diri. Maka, pilihlah teman dan lingkungan yang mendukung perbaikan diri.

5. Konsistensi dalam ibadah dan doa 

Mintalah pertolongan kepada Allah agar diteguhkan di jalan yang lurus.

BACA JUGA:Meraih Keberkahan dengan Membaca Al-Qur'an Setiap Hari

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Masa lalu adalah guru terbaik bagi yang mau belajar. Islam tidak memerintahkan umatnya untuk larut dalam penyesalan tanpa arah, namun untuk menjadikan setiap kejadian sebagai cermin untuk melangkah lebih baik. Dalam Islam, masa lalu tidak menghalangi seseorang untuk menjadi lebih baik selama ia mau bertaubat dan berjuang memperbaiki diri. Kisah para nabi, ayat-ayat Al-Qur’an, dan sabda Rasulullah SAW menjadi petunjuk yang jelas bahwa setiap manusia memiliki kesempatan kedua.

Marilah kita jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sebagai penjara. Semoga setiap pengalaman hidup, baik pahit maupun manis, menjadi ladang hikmah yang menuntun kita menuju kedewasaan, kematangan iman, dan keberkahan hidup. Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin berubah. Jangan biarkan masa lalu menenggelamkan kita, tapi jadikanlah ia sebagai pijakan untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bertakwa kepada Allah SWT. (djl)

Sumber:

Berita Terkait