Dari Surat An-Nasr Nabi Muhammad Rasulullah SAW Mengajarkan Kita Beristigfar
Radar Seluma.Disway.id Rasulullah SAW Mengajarkan kita senantiasa beristighfar --
Radar Seluma. Disway.id -Surat An-Nashr diri dari tiga ayat atau bermakna pertolongan pada saat pembebasan Kota Mekkah sehingga umat manusia berbondong-bondong untuk memeluk Agama Islam dengan bertasbih memohon ampunan Allah SWT sememuji Rabb nya sesungguhnya Allah Maha Pengampunan
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat An-Nashr ayat 1-3 yang berbunyi:
Artinya:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)
BACA JUGA:Berikut Keutamaan Surat An-Nasr, Sebagai Bukti Kebenaran Al-Quran
Nabi Muhammad Rasulullah SAW merasa memiliki banyak kekurangan bandingkan dengan nikmat besar yang Allah SWT anugerahkan kepadanya, dan Nabi Muhammad Rasulullah SAW menilai bahwa kekurangan dalam menunaikan hak tersebut adalah sebuah dosa.
Beristigfar sebagai peringatan bagi umatnya, kalau Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang Maksum (lepas dari kesalahan) beristighfar kepada Allah SWT, maka kita sebagai umat Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang pasti punya banyak dosa dan kemaksiatan lebih pantas untuk beristighfar.
Ketika bertambah nikmat, diperintahkan untuk bersyukur
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kautsar
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَر ٣
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka didirikanlah Shalat karena Rabb mu; dan berqurban lah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al Kautsar: 1-3).
BACA JUGA:Inilah Asbabun Nuzul Surat An-Nashr
Dalam Surah Ali Imran ayat 42-43 dijelaskan dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman yang berbunyi:
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Ali Imran: 42-43)
Berikut landasan anjuran kita beristigfar kepada Allah berikut beberapa dalil yang menjelaskan:
Pertama: Nabi Muhammad Rasulullah SAW ketika selesai dari Shalat beliau beristighfar tiga kali.
Tsauban RA berkata:
كَانَ رَسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاثَاً ، وَقَالَ : (( اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الجَلاَلِ وَالإكْرَامِ )) قِيلَ لِلأوْزَاعِيِّ – وَهُوَ أحَدُ رواة الحديث – : كَيْفَ الاسْتِغْفَارُ ؟ قَالَ : يقول : أسْتَغْفِرُ الله ، أسْتَغْفِرُ الله
Artinya; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya (shalat fardhu, pen.), beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan “Allahumma Antasalam, wa mingkas salam, tabararokta ya dzal jalalli wal ikram” artinya: Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).
Ada yang bertanya pada Al-Auza’i, salah satu perawi hadits ini,
“Bagaimana cara beristighfar?” Al-Auza’i menjawab, “Caranya membaca ‘Astaghfirullah… Astaghfirullah memohon ampun kepada Allah. Aku memohon ampun kepada Allah). (HR. Muslim, no. 591)
Kedua: Dalil tentang anjuran isitghfar setelah selesai beramal adalah firman Allah,
ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199)
BACA JUGA:Inilah Makna Surat An-Nashr Yang Terdiri Dari Tiga Ayat
Ketiga: Doa kafaratul majelis sebagaimana dalam hadits berikut ini.
وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( مَنْ جَلَسَ في مَجْلِسٍ ، فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ في مَجْلِسِهِ ذَلِكَ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح )) .
Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhiranya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu,
"Subhaanakallhumma wa bihamdika, asy-hadu Alla ilahak ilal anta As-taghfiruka wa atuubu ilail"
Artinya: "Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepadaMu); kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3433. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Itulah tafsir Surat An-Nashr mohon maaf jika ada kekeliruan dalam dalam penyampaian benar datang dari Allah SWT kesalahan merupakan kekeliruan dari penulis. (djl)
Sumber: