Kisah Rasulullah SAW Menjadi Ayah Teladan: Lembut, Bijak, dan Penuh Kasih Sayang

Kisah Rasulullah SAW Menjadi Ayah Teladan: Lembut, Bijak, dan Penuh Kasih Sayang

Radarseluma.disway.id - Kisah Rasulullah SAW Menjadi Ayah Teladan: Lembut, Bijak, dan Penuh Kasih Sayang--

Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh dalam naungan kasih sayang, pendidikan yang baik, dan bimbingan penuh kebijaksanaan. Dalam hal ini, sosok yang paling sempurna untuk dijadikan teladan adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau bukan hanya seorang Rasul dan pemimpin umat, tetapi juga seorang ayah yang penuh kelembutan, perhatian, dan cinta kepada anak-anaknya. Kehidupan Rasulullah SAW sebagai seorang ayah memperlihatkan betapa beliau meletakkan dasar yang kuat bagi pendidikan keluarga, membangun ikatan emosional, dan menanamkan nilai-nilai keimanan.

Kisah Rasulullah SAW sebagai ayah mengajarkan kepada kita bahwa kepemimpinan dalam keluarga tidak hanya tentang memberi nafkah, tetapi juga tentang mendidik dengan hati, memahami jiwa anak, serta mengasuh dengan kelembutan. Allah SWT sendiri menegaskan kelembutan akhlak Nabi dalam firman-Nya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini tidak hanya menggambarkan kelembutan beliau dalam memimpin umat, tetapi juga tercermin dalam kehidupan rumah tangganya sebagai seorang ayah dan kakek.

Kasih Sayang Rasulullah SAW kepada Anak-Anaknya

Rasulullah SAW dikaruniai beberapa putra dan putri, di antaranya Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah Az-Zahra RA. Meskipun sebagian besar putranya wafat di usia kecil, kecintaan beliau tidak pernah berkurang. Kepada putri-putrinya, khususnya Sayyidah Fatimah RA, Rasulullah SAW menunjukkan kelembutan luar biasa.

Dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari, diceritakan:

كَانَ إِذَا دَخَلَتْ فَاطِمَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ إِلَيْهَا فَقَبَّلَهَا، وَأَخَذَ بِيَدِهَا فَأَجْلَسَهَا فِي مَجْلِسِهِ

Artinya: “Apabila Fatimah datang kepada Nabi SAW, beliau berdiri untuk menyambutnya, menciumnya, memegang tangannya, dan mendudukkannya di tempat duduk beliau.” (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini menunjukkan betapa Rasulullah SAW memuliakan anaknya dengan penuh kasih. Beliau tidak hanya memandang Fatimah sebagai seorang anak, tetapi juga sebagai bagian dari dirinya. Rasulullah SAW bahkan pernah bersabda:

فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِّنِّي، يُرْبِينِي مَا رَبَّاهَا، وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا

Artinya: “Fatimah adalah bagian dariku. Apa yang membuatnya senang, membuatku senang. Dan apa yang menyakitinya, menyakitiku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Betapa besar cinta Rasulullah SAW terhadap anak-anaknya, hingga perasaan mereka menjadi bagian dari perasaan beliau.

BACA JUGA:Keteladanan Rasulullah SAW dalam Membangun Rumah Tangga yang Penuh Harmoni dan Kasih Sayang

Rasulullah SAW Sebagai Kakek yang Penyayang

Sumber:

Berita Terkait