Mengelola Emosi sebagai Bukti Hijrah Hati

Mengelola Emosi sebagai Bukti Hijrah Hati

Radarseluma.disway.id - Mengelola Emosi sebagai Bukti Hijrah Hati--

"Emosi dalam Perspektif Islam"

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Emosi adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Allah menciptakan manusia tidak hanya dengan akal dan fisik, tetapi juga dengan hati dan perasaan. Dalam Islam, emosi bukanlah sesuatu yang harus ditolak, namun perlu dikelola dan diarahkan. Kemarahan, kesedihan, kegembiraan, dan cinta merupakan bentuk ekspresi emosi yang sah, tetapi semua itu harus dikendalikan agar tidak melampaui batas syariat.

Hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat secara fisik. Hijrah hati adalah perpindahan dari sifat-sifat tercela menuju sifat-sifat terpuji. Salah satu bentuk hijrah hati yang paling nyata adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya. Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam hal ini. Beliau bukan hanya mengajarkan pengendalian diri, tetapi juga menunjukkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana cara merespons situasi emosional dengan tenang, bijak, dan penuh kasih sayang.

Hijrah Hati: Makna dan Urgensinya

Hijrah hati adalah bentuk perubahan yang lebih dalam dan hakiki dibandingkan hijrah fisik. Hijrah hati mencerminkan transformasi ruhani, ketika seseorang meninggalkan kedengkian menuju keikhlasan, meninggalkan amarah menuju kesabaran, dan meninggalkan dendam menuju pemaafan.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinya: "Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa qalbun salim (hati yang bersih) adalah hati yang bebas dari penyakit seperti iri, dengki, marah, dan sombong. Maka, mengelola emosi adalah jalan menuju hati yang bersih hati yang siap menghadap Allah.

BACA JUGA:Membangun Surga Kecil: Menumbuhkan Lingkungan Islami dalam Rumah Tangga

Pengendalian Emosi dalam Al-Qur'an dan Hadits

Dalam Islam, mengelola emosi, terutama amarah, merupakan tanda kematangan iman dan akhlak.

Allah SWT berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 134)

Ayat ini menegaskan bahwa menahan amarah dan memaafkan adalah bentuk dari ihsan (kebaikan tertinggi). Allah tidak hanya memuji mereka yang mengontrol emosi, tapi juga menegaskan bahwa Dia mencintai mereka.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِندَ الْغَضَبِ

Artinya: "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menggugurkan pandangan bahwa kekuatan sejati terletak pada kekuatan fisik. Justru, kekuatan yang sesungguhnya adalah kendali diri. Orang yang mampu menahan amarah adalah orang yang telah berhijrah dari hawa nafsu menuju akhlak mulia.

Contoh Nyata dari Rasulullah SAW 

Rasulullah SAW adalah pribadi yang paling mampu mengendalikan emosi. Dalam berbagai situasi sulit, beliau tetap sabar dan tidak membalas dengan kemarahan. Ketika penduduk Thaif mengusir dan melempari beliau dengan batu, malaikat Jibril datang menawarkan bantuan untuk membinasakan mereka. Namun, apa respons beliau?

“Sesungguhnya aku berharap bahwa Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”

Beliau menahan emosinya, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi justru mendoakan kebaikan. Ini adalah teladan hijrah hati yang luar biasa.

BACA JUGA:Hijrah yang Sukses Dimulai dari Keluarga: Menjadi Teladan Perubahan Menuju Ridha Allah

Strategi Mengelola Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Meningkatkan Kesadaran Diri (Self Awareness):

Ketika emosi muncul, sadari kehadirannya. Jangan langsung bereaksi. Ambil waktu untuk menarik napas dan diam.

2. Berwudhu dan Mengubah Posisi:

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Artinya: "Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam." (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain, beliau juga menyarankan untuk berwudhu jika marah karena amarah berasal dari setan dan setan diciptakan dari api, sementara air memadamkannya.

3. Berdoa dan Berdzikir:

Salah satu doa Nabi Muhammad Rasulullah SAW saat menghadapi emosi:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي

Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku, dan berilah aku rezeki.”

4. Mengubah Persepsi:

Pahami bahwa setiap ujian dan perlakuan buruk dari orang lain bisa jadi ladang pahala. Allah menilai kesabaran kita lebih tinggi daripada kemenangan emosional sesaat.

Emosi sebagai Lahan Ibadah

Mengelola emosi bukan berarti menekan atau menafikkan perasaan, tetapi menyalurkan dan mengendalikannya sesuai petunjuk wahyu. Inilah tanda-tanda hijrah hati yang sejati: ketika seseorang semakin sabar, lembut, dan bijak dalam menyikapi segala situasi.

Dalam setiap emosi terdapat potensi pahala, jika kita mampu mengelolanya dengan benar. Setiap kali kita menahan amarah, memaafkan, bersabar atas hinaan, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, maka saat itulah kita telah berpindah dari nafsu menuju ridha Allah.

Saatnya Menjadi Muslim yang Dewasa Emosi

Hijrah tidak selesai hanya dengan mengubah penampilan atau lokasi. Hijrah sejati adalah transformasi batin. Dalam era penuh provokasi dan tekanan seperti sekarang, umat Islam ditantang untuk memperlihatkan kedewasaan spiritual dengan cara mengelola emosi dengan akhlak mulia.

Marilah kita menjadikan hijrah hati sebagai komitmen harian. Mari menjadi pribadi yang menenangkan, bukan yang memanaskan. Menjadi pembawa rahmat, bukan pelontar kemarahan. Karena sesungguhnya, orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW di akhirat adalah mereka yang paling baik akhlaknya, termasuk dalam hal mengelola emosi. (djl)

Sumber:

Berita Terkait