Kiat Pola Makan Sehat dalam Konsep Agama Islam

Kiat Pola Makan Sehat dalam Konsep Agama Islam

Radarseluma.disway.id - Kiat Pola Makan Sehat dalam Konsep Agama Islam--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Kesehatan merupakan salah satu nikmat agung yang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Dalam Islam, menjaga kesehatan adalah bagian dari tanggung jawab seorang hamba terhadap dirinya sendiri. Salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan adalah pola makan. Islam, sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh, tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi juga memberikan panduan dalam hal pola makan yang baik dan sehat.

Pola makan sehat menurut Islam tidak hanya ditentukan dari sisi kuantitas makanan, tetapi juga dari kualitas, cara konsumsi, waktu makan, dan niat yang menyertainya. Islam tidak melarang umatnya untuk menikmati makanan, namun menekankan pentingnya keseimbangan, kebersihan, dan kehalalan makanan. Dalam artikel ini, kita akan menguraikan secara mendalam bagaimana Islam memberikan pedoman dalam pola makan sehat, dilengkapi dengan dalil dari Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad SAW.

1. Prinsip Dasar Pola Makan dalam Islam: Halal dan Thayyib

Islam menekankan bahwa makanan yang dikonsumsi seorang Muslim harus halal (diperbolehkan) dan thayyib (baik, bersih, dan sehat). Ini adalah dasar utama sebelum seseorang memperhatikan aspek lainnya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

Artinya: "Wahai sekalian manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik (thayyib)." (QS. Al-Baqarah: 168)

Ayat ini menunjukkan bahwa makanan tidak cukup hanya halal secara hukum syariat, tetapi juga harus baik dari sisi kesehatan, kebersihan, dan kebermanfaatan. Makanan yang mengandung zat berbahaya, najis, atau membahayakan tubuh tidak termasuk dalam kategori thayyib, meskipun mungkin halal secara jenis.

BACA JUGA:Mengajarkan Nilai-Nilai Islam kepada Anak: Fondasi Kehidupan Dunia dan Akhirat

2. Makan Secukupnya: Tidak Berlebihan

Islam juga mengajarkan prinsip moderasi dalam makan. Makan secara berlebihan tidak hanya bertentangan dengan adab Islami, tetapi juga bisa mendatangkan penyakit fisik dan ruhani.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Artinya: "Tidak ada bejana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia selain perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus melakukannya (makan lebih), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi no. 2380)

Hadits ini menjelaskan pentingnya mengontrol jumlah makanan. Rasulullah tidak menganjurkan makan sampai kenyang total. Pola makan 1/3 untuk makanan, 1/3 minuman, dan 1/3 untuk udara adalah metode sehat yang banyak dianut bahkan oleh para ahli kesehatan modern.

3. Makan dengan Adab dan Sunnah

Islam mengajarkan adab makan yang mencerminkan kesopanan, kebersihan, dan kesadaran spiritual. Beberapa adab makan yang diajarkan dalam Islam antara lain:

* Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

* Membaca basmalah

* Makan dengan tangan kanan

*:Tidak mencela makanan

* Tidak berlebihan

* Duduk dengan tenang saat makan

Rasulullah SAW bersabda:

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Artinya: "Wahai anak muda, sebutlah nama Allah (basmalah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat darimu." (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Dengan adab-adab tersebut, Islam mengajarkan agar makan bukan sekadar aktivitas fisik, tapi juga ibadah yang membawa berkah dan kesehatan.

4. Waktu dan Keseimbangan Pola Makan

Rasulullah SAW dikenal memiliki pola makan yang sangat teratur. Beliau tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Makanan beliau pun sederhana namun bergizi, seperti kurma, susu, gandum, dan daging dalam jumlah terbatas.

Makanan seimbang dalam Islam mencakup:

Karbohidrat alami seperti roti gandum, biji-bijian

Protein dari daging halal, ikan, telur, dan kacang-kacangan

Lemak sehat dari zaitun, biji-bijian, dan susu

Buah-buahan dan sayuran, yang disebut berulang kali dalam Al-Qur’an, seperti zaitun, anggur, kurma, delima, dan pisang.

Allah SWT berfirman:

وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ

Artinya: "Dan (Dia tumbuhkan) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Makanlah dari buahnya bila dia berbuah." (QS. Al-An'am: 141)

Pola makan Nabi SAW banyak menekankan konsumsi makanan alami, yang kini dikenal sangat bermanfaat bagi metabolisme dan daya tahan tubuh.

5. Menjauhi Makanan Haram dan Syubhat

Salah satu bentuk menjaga kesehatan dalam Islam adalah dengan menjauhi makanan haram dan syubhat (yang tidak jelas kehalalannya). Makanan haram, seperti babi, bangkai, darah, dan minuman keras, tidak hanya berdosa dikonsumsi tetapi juga berdampak buruk bagi fisik dan rohani.

Allah berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Artinya: "Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih bukan atas nama Allah." (QS. Al-Baqarah: 173)

Selain itu, makanan yang berasal dari sumber haram juga berdampak pada tidak diterimanya doa, sebagaimana dalam Hadits:

ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ... فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Artinya: "...Seorang lelaki yang menempuh perjalanan panjang, rambutnya kusut, berdebu, menengadahkan tangannya ke langit seraya berkata: 'Ya Rabb, Ya Rabb!' sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?" (HR. Muslim no. 1015)

BACA JUGA:Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Iman Bagi Umat Muslim

Dari penjelasan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa pola makan sehat dalam Islam bukan sekadar menjaga tubuh dari penyakit, tapi juga merupakan bagian dari ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Dengan menjaga kehalalan dan kebersihan makanan, tidak berlebihan, mengikuti sunnah Rasulullah SAW, serta menjauhi yang haram dan syubhat, seorang Muslim tidak hanya menjaga kesehatannya, tetapi juga menjaga keutuhan imannya.

Islam mengajarkan kesederhanaan, kebersihan, dan kesadaran spiritual dalam makan. Dalam dunia modern yang penuh godaan makanan instan dan gaya hidup tidak sehat, ajaran Islam tetap relevan dan memberikan solusi yang menyeluruh.

Sudah saatnya kita sebagai umat Islam tidak hanya fokus pada aspek ritual ibadah, tetapi juga menjalankan sunnah Nabi SAW dalam hal pola hidup sehat, termasuk dalam pola makan. Jadikan makan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah, bukan sebagai pelampiasan hawa nafsu. Semoga kita semua mampu menerapkan pola makan Islami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tubuh sehat, hati bersih, dan ibadah pun lebih sempurna. (djl) 

Sumber:

Berita Terkait