Mengorbankan Ego untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Mengorbankan Ego untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Radarseluma.disway.id - Mengorbankan Ego untuk Mendekatkan Diri kepada Allah--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Dalam perjalanan spiritual menuju Allah SWT, seorang hamba akan diuji dalam berbagai aspek kehidupannya. Salah satu ujian paling berat namun paling mendasar adalah ujian terhadap ego—sebuah dorongan dalam diri yang sering kali mengarah pada keangkuhan, pembenaran diri, dan penolakan terhadap kebenaran. Padahal, syarat utama untuk mendapatkan hidayah dan ridha Allah adalah tawadhu’ (rendah hati) dan tunduk sepenuhnya kepada kehendak-Nya.

Mengorbankan ego bukan sekadar tindakan emosional, tetapi bagian penting dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Tanpa menundukkan ego, hati manusia akan keras, sulit menerima nasihat, bahkan berani menentang perintah Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, tema ini sangat penting untuk direnungkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari proses taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah).

Definisi Ego dalam Perspektif Islam

Secara istilah, ego dalam Islam sering diidentikkan dengan nafsu ammarah bis suu’, yakni dorongan jiwa yang menyuruh kepada keburukan. Allah SWT menyebutnya dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 53 yang mana berbunyi: 

 إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۭ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ

Artinya: "Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku."(QS. Yusuf: 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa secara fitrah, manusia memiliki potensi keburukan dari dalam dirinya, yakni nafsu yang mendorong kepada kesombongan, keras kepala, dan keinginan untuk selalu menang sendiri. Nafsu inilah yang menjadi penghalang utama antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

BACA JUGA:Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS

Bahaya Ego dalam Kehidupan Spiritual

Ego dapat menyebabkan seseorang menolak kebenaran, bahkan saat ia sadar bahwa yang datang kepadanya adalah kebenaran dari Allah. Hal inilah yang menyebabkan iblis dilaknat selamanya. Iblis tidak kufur karena tidak tahu, tetapi karena sombong dan memperturutkan egonya dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 34 Allah SWT berfirman:

أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَـٰفِرِينَ 

Artinya: "Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34)

Iblis tidak mau sujud kepada Adam bukan karena tidak tahu perintah Allah, melainkan karena merasa lebih tinggi. Inilah contoh nyata betapa ego bisa menghancurkan kedekatan seorang makhluk dengan Tuhannya, bahkan meski sebelumnya ia telah dekat dengan Allah di kalangan malaikat.

Mengorbankan Ego: Jalan Menuju Ketenangan Hati

Mengorbankan ego berarti bersedia mengakui kesalahan, menerima kebenaran meski pahit, serta merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Muslim yang mana berbunyi: 

"مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ"

Artinya: "Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikannya." (HR. Muslim)

Sumber:

Berita Terkait