Menjaga Ketulusan Hati dalam Setiap Amal Ibadah

Menjaga Ketulusan Hati dalam Setiap Amal Ibadah

Radarseluma.disway.id - Menjaga Ketulusan Hati dalam Setiap Amal Ibadah--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim, kita diperintahkan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amal ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Namun, amal ibadah yang kita lakukan tidak akan bernilai di sisi Allah jika tidak disertai dengan niat yang tulus dan ikhlas. Ketulusan hati atau ikhlas merupakan syarat utama diterimanya amal. Ia adalah ruh dalam setiap kebaikan, pondasi dari setiap amal saleh, dan penentu apakah amalan kita akan mendapatkan ganjaran atau tidak di sisi-Nya.

Ikhlas berarti melakukan amal semata-mata karena Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian manusia, balasan dunia, atau pamrih tertentu. Menjaga ketulusan hati dalam beribadah bukan perkara mudah, karena manusia senantiasa diuji dengan riya’, ujub, dan sum’ah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami urgensi dan cara menjaga keikhlasan agar setiap ibadah bernilai di hadapan Allah.

BACA JUGA:Dzulqa’dah: Bulan untuk Meningkatkan Rasa Cinta kepada Nabi Muhammad SAW

Makna Ikhlas dalam Islam

Ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti murni, bersih dari campuran. Dalam konteks ibadah, ikhlas berarti memurnikan niat dan tujuan semata-mata hanya kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 11 yang mana berbunyi: 

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam (menjalankan) Agama.'" (QS. Az-Zumar: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap bentuk ibadah harus dilandasi dengan keikhlasan. Tanpa ikhlas, amal hanya menjadi formalitas tanpa makna.

Urgensi Keikhlasan dalam Amal

Keikhlasan merupakan syarat diterimanya amal. Hal ini ditegaskan dalam sebuah Hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang berbunyi: 

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa amal yang tampak besar di mata manusia bisa jadi tidak bernilai di sisi Allah jika tidak diniatkan karena-Nya. Sebaliknya, amal kecil yang dilakukan dengan tulus dan sembunyi-sembunyi bisa lebih dicintai Allah daripada amal besar yang disertai riya’.

Sumber:

Berita Terkait