Ia juga menambahkan bahwa anggaran MBG turut mendorong perputaran ekonomi karena melibatkan banyak pelaku usaha lokal, mulai dari pemasok bahan pangan hingga pekerja di sektor distribusi.
“Dana dari APBN akan mengalir langsung ke masyarakat,” tegas Oscar.
Dampak positif program ini juga dirasakan langsung oleh petani di daerah. Salah satunya disampaikan Samuel Seronadi, Ketua Kelompok Tani Bina Kasih di Desa Kadiwano, Kecamatan Wewewa Timur, Sumba Barat Daya.
Ia mengatakan hasil panen kelompoknya kini terserap sebagai pemasok kebutuhan dapur MBG, sehingga tidak lagi mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil pertanian.
“Sekarang hasil panen seperti kacang panjang, buncis, labu, dan sawi langsung terserap. Dulu sering tidak laku, bahkan terbuang atau jadi pakan ternak,” ujarnya.
Samuel menambahkan, dengan adanya program ini, kelompok tani kembali membuka lahan untuk meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan dapur MBG.
Selain berdampak ekonomi, program ini juga memberikan manfaat sosial, terutama bagi anak-anak sekolah yang kini mendapatkan asupan makanan bergizi secara rutin, khususnya di wilayah Indonesia Timur yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pangan.
Program MBG menjadi salah satu intervensi pemerintah yang mengintegrasikan belanja negara dengan peningkatan gizi anak serta pemberdayaan ekonomi lokal, sehingga memberikan efek berlapis bagi masyarakat.