Ramadhan Bulannya Al-Qur’an: Momentum Emas Kembali kepada Kalamullah dan Membangun Peradaban Taqwa

Minggu 22-02-2026,11:00 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Bulan Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat. Lebih dari itu, Ramadhan memiliki kedudukan istimewa sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Karena itulah Ramadhan sering disebut sebagai Syahrul Qur’an bulan Al-Qur’an.
 
Di tengah kesibukan dunia modern, Ramadhan hadir sebagai momentum untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Bukan hanya membacanya, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka, memahami hubungan antara Ramadhan dan Al-Qur’an adalah bagian penting dari upaya kita meraih keberkahan bulan suci ini.
 
Ramadhan dan Turunnya Al-Qur’an
 
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
 
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
 
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan Ramadhan tidak terlepas dari peristiwa agung turunnya Al-Qur’an. Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah SAW selama 23 tahun.
 
Allah juga berfirman:
 
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
 
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
 
Dan malam Lailatul Qadar itu terjadi di bulan Ramadhan. Maka jelaslah bahwa Ramadhan adalah bulan turunnya cahaya petunjuk bagi seluruh umat manusia.
 
BACA JUGA:Menguatkan Disiplin Ibadah Lima Waktu: Kunci Istiqamah dan Keberkahan Hidup Seorang Muslim
 
Teladan Rasulullah SAW Bersama Al-Qur’an di Bulan Ramadhan
 
Rasulullah SAW memberikan contoh nyata bagaimana seharusnya seorang Muslim berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan:
 
كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
 
Artinya: “Jibril menemui Nabi setiap malam di bulan Ramadhan, lalu beliau saling mempelajari Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Hadits ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak tilawah dan tadabbur Al-Qur’an. Bahkan Rasulullah SAW, manusia paling mulia, tetap mengulang dan mempelajari Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril setiap malam.
 
Para sahabat dan generasi salafus shalih pun meneladani hal ini. Mereka memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Ada di antara mereka yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, bahkan setiap malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan
 
Membaca Al-Qur’an pada dasarnya sudah bernilai pahala besar. Rasulullah SAW bersabda:
 
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
 
Artinya: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. Tirmidzi)
 
Di bulan Ramadhan, pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Maka membaca Al-Qur’an di bulan ini menjadi ladang pahala yang sangat luas. Setiap huruf yang dibaca menjadi cahaya di dunia dan akhirat.
 
Namun, membaca saja tidak cukup. Allah SWT berfirman:
 
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
 
Artinya: “Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa: 82)
 
Ayat ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama membaca Al-Qur’an adalah untuk direnungkan maknanya dan diamalkan dalam kehidupan nyata.
 
Ramadhan: Momentum Kembali kepada Al-Qur’an
 
Ramadhan sejatinya adalah madrasah ruhani. Ia mendidik kesabaran melalui puasa, melatih kepedulian melalui zakat dan sedekah, serta menghidupkan malam dengan shalat dan tilawah.
 
Jika di luar Ramadhan kita sering lalai dari Al-Qur’an, maka di bulan inilah saatnya kita memperbaiki hubungan dengan Kalamullah. Jadikan Ramadhan sebagai titik awal membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an setiap hari, memahami tafsirnya, serta menjadikannya pedoman dalam mengambil keputusan hidup.
 
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, tetapi petunjuk hidup. Ia membimbing manusia dalam urusan akidah, ibadah, muamalah, bahkan tata kehidupan sosial dan pemerintahan. Ketika umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, maka lahirlah peradaban yang beradab, adil, dan penuh rahmat.
 
BACA JUGA:Keutamaan Shalat Tahajud di Bulan Ramadhan: Jalan Sunyi Menuju Ampunan dan Kemuliaan di Sisi Allah
 
Tantangan Umat dan Kewajiban Menghidupkan Al-Qur’an
 
Di era digital ini, umat Islam menghadapi berbagai tantangan: krisis moral, derasnya arus informasi, dan godaan dunia yang tak terbendung. Banyak yang sibuk dengan gawai, tetapi lupa membuka mushaf.
 
Ramadhan menjadi alarm spiritual agar kita kembali memprioritaskan Al-Qur’an. Jangan sampai Al-Qur’an hanya dibaca saat Ramadhan, lalu dilupakan setelahnya. Justru Ramadhan harus menjadi awal kebangkitan ruhani yang berkelanjutan.
 
Rasulullah SAW bersabda:
 
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
 
Artinya: “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)
 
Hadits ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara puasa Ramadhan dan Al-Qur’an. Keduanya menjadi penolong di akhirat kelak.
 
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Keistimewaan bulan ini tidak terlepas dari peristiwa agung turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi bulan kebangkitan Al-Qur’an dalam kehidupan umat Islam.
 
Melalui tilawah, tadabbur, dan pengamalan Al-Qur’an, seorang Muslim akan menemukan ketenangan, petunjuk, dan kekuatan dalam menghadapi kehidupan. Ramadhan mengajarkan bahwa puasa dan Al-Qur’an adalah dua kekuatan spiritual yang saling melengkapi.
 
Semoga Ramadhan yang kita jalani bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi momentum transformasi diri. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia, bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang hayat.
 
Mari kita hidupkan rumah-rumah kita dengan lantunan ayat suci, hidupkan hati dengan tadabbur, dan hidupkan amal dengan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan keberkahan Ramadhan dan syafaat Al-Qur’an di hari akhir kelak. Aamiin. (djl)
Kategori :