BACA JUGA:Menguak Gelar Agung “Sultanul Auliya”: Kemuliaan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Pandangan Islam
4. Nabi Yusuf AS: Bendahara Mesir yang Amanah
Nabi Yusuf AS diangkat sebagai bendahara Mesir, mengelola kekayaan negeri.
Firman Allah SWT:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Berkatalah Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendahara negeri ini; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.’” (QS. Yusuf: 55)
Dengan amanah, beliau menyelamatkan rakyat dari bencana kelaparan. Kekayaannya digunakan untuk maslahat umat.
5. Nabi Muhammad SAW: Pedagang Sukses dan Rasul yang Dermawan
Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pedagang sukses yang jujur. Kekayaan hasil perdagangan beliau tidak menimbulkan kesombongan. Setelah diangkat menjadi Rasul, beliau selalu bersedekah dan membagikan hartanya kepada fakir miskin.
Sabda Rasulullah SAW:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Artinya: “Harta tidak akan berkurang karena disedekahkan.” (HR. Muslim)
Kedermawanan Nabi SAW adalah teladan utama bagi umat Islam.
Dari kisah Nabi Ayyub, Daud, Sulaiman, Yusuf, hingga Nabi Muhammad SAW, kita memahami bahwa kekayaan bukanlah musuh iman. Sebaliknya, harta bisa menjadi sarana memperluas amal kebaikan jika digunakan dengan benar. Para Nabi membuktikan bahwa kekayaan tidak harus melahirkan kesombongan, melainkan bisa mempertebal ketaatan.
Harta adalah amanah. Para Nabi Allah yang kaya raya telah mencontohkan bahwa kekayaan sejati bukanlah pada tumpukan emas dan perak, melainkan pada hati yang penuh syukur, tangan yang dermawan, dan jiwa yang tunduk kepada Allah SWT. Semoga kita mampu meneladani mereka, sehingga bila Allah menganugerahkan kekayaan, harta itu menjadi jalan menuju surga, bukan sebaliknya. (djl)