Hadist yang menjadi pijakan beliau:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tradisi penduduk Madinah dianggap sebagai warisan generasi terbaik yang hidup dekat dengan Rasulullah SAW
Imam Malik sangat menjaga adab terhadap Hadits Nabi. Setiap kali hendak meriwayatkan Hadist, ia mandi, memakai pakaian terbaik, dan duduk dengan penuh khidmat.
3. Imam Asy-Syafi’i (150 H – 204 H)
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, lahir di Gaza, Palestina. Beliau tumbuh dalam keluarga miskin, tetapi memiliki kecerdasan luar biasa.
Mazhab Syafi’i menonjol dalam perpaduan antara nash (Al-Qur’an dan Hadis) serta rasio (qiyas). Beliau dikenal sebagai penyusun ilmu Ushul Fikih yang sistematis, khususnya dalam karyanya Ar-Risalah.
Dalil yang sangat ditekankan Imam Syafi’i adalah sabda Rasulullah SAW:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Artinya: “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik)
Imam Syafi’i menegaskan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai fondasi utama.
Imam Syafi’i memiliki hafalan yang sangat kuat. Disebutkan bahwa setiap kali membuka kitab, ia harus menutup bagian lain dengan tangannya agar tidak terbaca dua halaman sekaligus.
BACA JUGA:Empat Wali Kutub Penjaga Alam Semesta: Kedudukan, Karomah, dan Cahaya Spiritualitas Islam
4. Imam Ahmad bin Hanbal (164 H – 241 H)
Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy-Syaibani, lahir di Baghdad. Beliau tumbuh sebagai seorang yang sangat tekun dalam menuntut ilmu Hadist.
Mazhab Hanbali sangat tekstual dan ketat dalam berpegang pada hadis. Jika ada Hadist Shalih, meskipun Ahad, maka Hadits itu lebih beliau utamakan daripada qiyas.
Dalil yang beliau pegang teguh adalah firman Allah SWT: