Kisah Rasulullah SAW Menjadi Ayah Teladan: Lembut, Bijak, dan Penuh Kasih Sayang

Rabu 10-09-2025,11:00 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah mencium Hasan bin Ali di hadapan seorang sahabat bernama Aqra’ bin Habis. Aqra’ berkata, “Aku memiliki sepuluh anak, tetapi aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka.” Rasulullah SAW pun menegurnya dengan sabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

Artinya: “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi (oleh Allah).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang bukanlah kelemahan, melainkan tanda kemuliaan hati dan keimanan.

Kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam Mendidik Anak

Kelembutan Rasulullah SAW tidak berarti beliau membiarkan anak-anaknya tanpa didikan. Beliau adalah sosok yang bijaksana dalam menanamkan nilai iman dan akhlak. Rasulullah SAW selalu mengajarkan tauhid sejak dini, menanamkan cinta kepada Allah, serta membiasakan mereka dengan ibadah.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Artinya: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan cara mendidik, bukan menyakiti) ketika mereka berusia sepuluh tahun jika meninggalkannya, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini menegaskan bahwa pendidikan harus dilakukan dengan bertahap, penuh kasih sayang, dan disesuaikan dengan perkembangan anak.

BACA JUGA:Nabi Muhammad SAW: Teladan Agung yang Mengajarkan Umat tentang Pentingnya Ilmu

Teladan yang Relevan untuk Orang Tua Masa Kini

Kisah Rasulullah SAW sebagai ayah mengandung banyak pelajaran penting:

1. Kasih sayang adalah pondasi utama. Orang tua yang penuh cinta akan melahirkan anak-anak yang percaya diri dan berakhlak baik.

2. Pendidikan harus dimulai sejak dini. Rasulullah SAW tidak menunda dalam menanamkan nilai iman dan akhlak.

3. Memuliakan anak adalah bagian dari iman. Beliau tidak pernah merendahkan anak-anaknya, bahkan selalu menghargai keberadaan mereka.

4. Keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan. Rasulullah SAW mampu menempatkan diri dengan bijak antara mengasihi dan mendidik.

Dari penjelasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa Kelembutan dan kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam mendidik anak-anaknya merupakan teladan agung yang harus diteladani setiap orang tua. Beliau menunjukkan bahwa menjadi ayah bukan hanya memberi nafkah, tetapi juga menanamkan cinta, mendidik dengan sabar, dan membimbing dengan doa. Rasulullah SAW adalah contoh nyata bagaimana seorang ayah bisa menjadi sahabat, guru, sekaligus pemimpin dalam keluarga.

Kategori :