1. Membebaskan Budak yang Disiksa
Pada awal dakwah Islam, banyak budak yang memeluk Islam disiksa oleh tuan mereka. Abu Bakar mengorbankan hartanya untuk membeli dan membebaskan mereka. Salah satu yang terkenal adalah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakar membelinya dari Umayyah bin Khalaf dengan harga yang tinggi demi menyelamatkan Bilal dari siksaan kejam.
Allah SWT memuji perbuatan ini dalam Surah Al-Lail ayat 17-21:
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى • الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى • وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى • إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى • وَلَسَوْفَ يَرْضَى
Artinya: “Dan kelak akan dijauhkan (dari neraka) orang yang paling bertakwa, yang menafkahkan hartanya untuk membersihkannya (jiwanya), dan tidak ada seorang pun yang memberikan nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, dan niscaya dia akan mendapat kepuasan.”
2. Membantu Dakwah Rasulullah SAW
Abu Bakar adalah penyokong utama dakwah Islam. Ia mendanai perjalanan hijrah Rasulullah SAW, menyediakan unta, bekal, dan membayar pemandu jalan, bahkan ikut menemani Rasulullah SAW dalam gua Tsur.
3. Pengorbanan di Medan Perang
Dalam Perang Tabuk, ketika umat Islam menghadapi krisis logistik, Abu Bakar kembali menyumbangkan seluruh hartanya. Tidak ada yang tersisa untuknya selain iman kepada Allah dan Rasul-Nya.
BACA JUGA:Abu Bakar Ash-Shiddiq: Teladan Keimanan dari Remaja Hingga Menguatkan Dakwah
Pelajaran yang Bisa Diambil
• Iman melahirkan pengorbanan: Abu Bakar memberi bukan karena kelebihan, tapi karena keyakinan pada janji Allah.
• Derma dalam diam: Banyak amal beliau dilakukan tanpa pamrih atau mengharap pujian.
• Harta hanyalah titipan: Abu Bakar mengajarkan bahwa harta hanyalah sarana untuk mendapatkan ridha Allah, bukan tujuan hidup.
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Kedermawanan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah teladan sepanjang zaman. Ia rela memberikan seluruh hartanya demi menegakkan kalimat Allah. Pengorbanannya tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, dan jiwa.
Kita belajar bahwa memberi bukan menunggu kaya, tetapi memberi di saat kita yakin bahwa Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Abu Bakar telah membuktikan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segalanya.
Semoga kisah ini menggugah hati kita untuk meneladani Abu Bakar, menjadikan harta sebagai alat untuk kebaikan, dan tidak ragu berkorban demi agama. Karena pada akhirnya, harta yang kita infakkan di jalan Allah itulah yang akan menjadi bekal abadi di akhirat.