Ikhlas Tanpa Pamrih: Kunci Sukses Amal yang Diterima Allah

Kamis 19-06-2025,11:00 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan

Reporter: Juli Irawan

Radarseluma.disway.id - Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa terdorong untuk berbuat baik, memberikan bantuan, ataupun melaksanakan berbagai bentuk ibadah. Namun, apakah semua amal tersebut bernilai di sisi Allah SWT? Jawabannya bergantung pada satu hal penting: ikhlas. Ikhlas tanpa pamrih adalah inti dari setiap amal yang diterima oleh Allah. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apa pun, bahkan ibadah yang lahiriah tampak sempurna, akan kehilangan makna hakiki di hadapan Allah.

Allah SWT hanya menerima amalan yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridha-Nya, bukan karena riya', pujian manusia, atau harapan balasan duniawi. Maka, memahami dan mengamalkan ikhlas tanpa pamrih adalah rahasia keberhasilan amal dunia dan akhirat.

Definisi Ikhlas dan Urgensinya dalam Amal

Ikhlas berasal dari bahasa Arab أَخْلَصَ يُخْلِصُ إِخْلَاصًا, yang berarti memurnikan niat. Dalam istilah syar’i, ikhlas adalah melakukan amal ibadah hanya karena Allah semata, tanpa mencampurkannya dengan motivasi duniawi atau keinginan mendapatkan pujian manusia.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Artinya: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama...” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menegaskan bahwa inti dari setiap perintah ibadah adalah keikhlasan. Tanpa keikhlasan, amal menjadi sia-sia di mata Allah, bahkan bisa berubah menjadi dosa jika dilandasi niat riya’

BACA JUGA:Menjaga Semangat Haji dalam Kehidupan Sehari-hari: Meski Belum Berkesempatan Berangkat ke Baitullah

Bahaya Amal Tanpa Ikhlas dan Tanda-Tandanya

Amal yang tidak ikhlas sangat rentan mengarah pada riya’ (pamer), sum’ah (ingin didengar), dan ujub (bangga diri). Rasulullah SAW memperingatkan bahwa amal tanpa ikhlas adalah ancaman besar di akhirat.

Dalam hadits sahih disebutkan:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ... رَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ... فَقَدْ قِيلَ... ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah... orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an... lalu dikatakan kepadanya: ‘Kamu belajar supaya disebut orang alim dan membaca supaya dikatakan qari’.’ Maka, ia telah mendapatkan (pujiannya). Kemudian ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Hadits ini memperlihatkan betapa fatalnya amal yang dilakukan tanpa keikhlasan. Bahkan amal seagung ilmu dan tilawah pun tak berarti jika niatnya tercampur pamrih dunia.

Tanda-tanda amal tidak ikhlas di antaranya:

• Ingin dipuji atau dilihat orang

• Mudah kecewa saat tidak dihargai

• Merasa rugi jika tidak mendapat balasan

BACA JUGA:Amalan Pasca Haji: Menjaga Spiritualitas dan Memperkuat Nilai Taqwa Sepanjang Hayat

Cara Menumbuhkan dan Menjaga Ikhlas dalam Setiap Amal

Keikhlasan bukan perkara sekali jadi, tetapi proses yang terus-menerus diperjuangkan. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan dan menjaga keikhlasan:

1. Perbaharui Niat Sebelum, Saat, dan Sesudah Amal:

Tanamkan dalam hati bahwa yang kita lakukan adalah hanya untuk Allah SWT.

2. Sembunyikan Amal Jika Mungkin:

Rasulullah SAW bersabda:

"سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ... وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ، فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ"

Artinya: "Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di hari kiamat... salah satunya adalah orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Minta Pertolongan kepada Allah:

Banyak ulama salaf yang menangis ketika membaca doa ini:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلَا تَجْعَلْ فِيهِ لِغَيْرِكَ شَيْئًا

Artinya: “Ya Allah, jadikan semua amal perbuatanku baik, dan jadikan ia ikhlas hanya untuk wajah-Mu, dan jangan Engkau jadikan di dalamnya sedikit pun untuk selain-Mu.”

Amal Diterima Hanya dengan Ikhlas

Ikhlas adalah pondasi amal yang paling mendasar. Sebagus apa pun amal lahiriah, jika tidak didasari oleh keikhlasan, ia tidak akan diterima. Sebaliknya, amal yang mungkin kecil dan tidak dipandang manusia, tetapi dilakukan karena Allah semata, akan mendapatkan balasan besar di sisi-Nya.

Maka, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa memperbarui niat, menghindari pamrih dunia, dan menjaga hatinya dari riya’. Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Dialah yang akan menilai, menerima, atau menolak amal sesuai dengan niat yang terpendam di baliknya.

Mari Latih Keikhlasan dalam Setiap Amal

Menggapai derajat ikhlas memang tidak mudah, tetapi harus terus diupayakan. Jadikan setiap amal sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, bukan demi pengakuan manusia. Karena amal yang dikerjakan ikhlas tanpa pamrih akan berbuah keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu mengikhlaskan amal dan mendapatkan ridha serta pahala dari-Nya. Aamiin. (djl) 

Kategori :